Internasional

Terungkap! Israel Pakai Senjata "Neraka", Habisi 2.842 Warga Palestina

Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
Rabu, 11/02/2026 20:00 WIB
Foto: (AP/Fatima Shbair)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah investigasi Al Jazeera Arabic mengungkap dugaan penggunaan senjata termal dan termobarik oleh Israel dalam perang di Gaza yang menyebabkan sedikitnya 2.842 warga Palestina lenyap tanpa meninggalkan jasad. Mereka tidak ditemukan sebagai jenazah utuh, melainkan hanya menyisakan percikan darah atau fragmen kecil jaringan tubuh.

Temuan tersebut disampaikan dalam laporan investigasi berjudul The Rest of the Story, yang mendokumentasikan pencatatan forensik Pertahanan Sipil Gaza sejak perang dimulai pada Oktober 2023. Hingga kini, Kementerian Kesehatan Palestina mencatat lebih dari 72.000 orang tewas akibat serangan Israel.

Salah satu korban adalah Saad, putra Yasmin Mahani, yang hilang setelah serangan udara Israel menghantam sekolah al-Tabin di Kota Gaza pada subuh 10 Agustus 2024. Mahani mengatakan ia menyusuri reruntuhan sekolah dan masjid di sekitarnya untuk mencari anaknya.


"Saya masuk ke masjid dan mendapati diri saya menginjak daging dan darah," kata Mahani kepada Al Jazeera Arabic, dikutip Rabu (11/2/2026). "Kami tidak menemukan apa pun dari Saad. Bahkan tidak ada jenazah untuk dimakamkan. Itu bagian tersulitnya."

Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, mengatakan angka 2.842 warga yang dinyatakan lenyap bukanlah perkiraan, melainkan hasil pencatatan langsung di lokasi serangan. Timnya mencocokkan jumlah penghuni bangunan dengan jenazah yang ditemukan setelah serangan.

"Jika sebuah keluarga mengatakan ada lima orang di dalam rumah dan kami hanya menemukan tiga jenazah, dua lainnya kami catat sebagai lenyap setelah pencarian menyeluruh tidak menemukan apa pun selain jejak biologis," ujar Basal.

Menurutnya, jejak tersebut kerap hanya berupa semprotan darah di dinding atau fragmen kecil jaringan tubuh.

Senjata Penghasil Suhu Ekstrem

Para ahli yang diwawancarai Al Jazeera mengaitkan fenomena ini dengan penggunaan senjata termobarik dan amunisi termal, yang mampu menghasilkan suhu ekstrem hingga lebih dari 3.500 derajat Celcius. Senjata jenis ini bekerja dengan menyebarkan awan bahan bakar yang kemudian meledak, menciptakan bola api besar dan efek vakum.

Ahli militer Rusia, Vasily Fatigarov, menjelaskan bahwa senjata tersebut dirancang untuk meningkatkan durasi pembakaran dan panas ledakan.

"Bubuk aluminium, magnesium, dan titanium ditambahkan ke dalam campuran kimia untuk menaikkan suhu ledakan hingga 2.500 sampai 3.000 derajat Celcius," ujarnya.

Investigasi itu juga menyoroti penggunaan tritonal, campuran TNT dan bubuk aluminium, yang digunakan dalam bom buatan Amerika Serikat seperti MK-84. Bom tersebut disebut mampu menghasilkan panas hingga 3.500 derajat Celcius.

Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, Dr. Munir al-Bursh, mengatakan panas ekstrem tersebut berdampak fatal pada tubuh manusia yang sebagian besar terdiri dari air.

"Titik didih air adalah 100 derajat Celcius. Ketika tubuh terpapar panas di atas 3.000 derajat yang disertai tekanan dan oksidasi besar, cairan tubuh mendidih seketika dan jaringan menguap," katanya.

Al Jazeera juga mengidentifikasi penggunaan sejumlah amunisi buatan AS dalam serangan di Gaza, termasuk bom MK-84, BLU-109 penghancur bunker, serta GBU-39, bom luncur presisi yang digunakan dalam serangan terhadap sekolah al-Tabin. Basal mengonfirmasi bahwa pecahan sayap GBU-39 ditemukan di beberapa lokasi tempat warga dinyatakan lenyap.

Pengacara internasional dan dosen Universitas Georgetown di Qatar, Diana Buttu, menilai penggunaan senjata tersebut melibatkan tanggung jawab lebih luas dari sekadar Israel.

"Ini adalah genosida global, bukan hanya genosida Israel," kata Buttu. Ia menegaskan bahwa penggunaan senjata yang tidak membedakan kombatan dan warga sipil merupakan kejahatan perang menurut hukum internasional.

Sementara itu, profesor hukum internasional Tariq Shandab menyatakan sistem peradilan internasional gagal menghentikan kekerasan di Gaza, meski Mahkamah Internasional telah mengeluarkan tindakan sementara terhadap Israel.

"Pengepungan, kelaparan, dan pembatasan obat-obatan itu sendiri merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan," ujarnya.

Bagi Rafiq Badran, warga kamp pengungsi Bureij yang kehilangan empat anaknya, laporan investigasi dan istilah hukum internasional tak mampu menggambarkan tragedi yang dialaminya.

"Empat anak saya lenyap begitu saja," kata Badran. "Tidak ada sepotong pun yang tersisa. Ke mana mereka pergi?"


(tfa/luc)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Serangan Israel Kembali Hantam Gaza, 3 Warga Palestina Tewas