Internasional

Chaos! Demo Antikorupsi Berakhir Ricuh, Ibu Kota bak Medan Perang

luc, CNBC Indonesia
Rabu, 11/02/2026 13:25 WIB
Foto: Para petugas polisi memegang perisai di luar kantor Perdana Menteri selama protes anti-pemerintah, yang dipicu oleh penyelidikan korupsi terhadap Wakil Perdana Menteri Belinda Balluku, di Tirana, Albania, 10 Februari 2026. (REUTERS/Florion Goga)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kerusuhan kembali pecah di ibu kota Albania pada Selasa (10/2/2026) malam waktu setempat, ketika ribuan pendukung oposisi turun ke jalan menuntut pengunduran diri Wakil Perdana Menteri Belinda Balluku. Aksi yang awalnya berupa unjuk rasa politik berubah menjadi bentrokan terbuka setelah sebagian demonstran melempar bom molotov dan suar ke arah aparat keamanan.

Polisi antihuru-hara membalas dengan menembakkan gas air mata dan menyemprotkan water cannon untuk membubarkan massa di pusat kota Tirana. Kepolisian Albania melaporkan sedikitnya 16 orang dilarikan ke rumah sakit akibat luka bakar dan cedera lainnya, sementara 13 demonstran ditangkap terkait kerusuhan tersebut.

Protes besar ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan terhadap pemerintahan Perdana Menteri Edi Rama terkait dugaan korupsi yang melibatkan Balluku. Meski desakan publik kian kuat, Rama hingga kini menolak memecat Balluku dari jabatannya.


Balluku, yang juga menjabat sebagai Menteri Energi dan Infrastruktur, dituduh oleh jaksa antikorupsi telah melakukan intervensi dalam proses pengadaan proyek konstruksi untuk menguntungkan sejumlah perusahaan tertentu.

Aparat penegak hukum bahkan telah meminta parlemen mencabut kekebalan hukum Balluku agar proses hukum bisa dilanjutkan, mengingat pencabutan imunitas hanya dapat dilakukan melalui pemungutan suara di parlemen.

Demonstrasi Selasa malam merupakan aksi ketiga dalam beberapa bulan terakhir yang secara khusus menuntut Rama mundur dari jabatannya. Untuk mengantisipasi eskalasi, lebih dari 1.300 personel polisi dikerahkan menjaga titik-titik strategis di Tirana. Namun, seperti dua aksi sebelumnya, protes kali ini juga berakhir ricuh.

Dalam aksi-aksi terdahulu, para demonstran juga melempar batu dan bom molotov ke arah polisi serta gedung pemerintahan, sementara aparat merespons dengan gas air mata dan meriam air.

Pemimpin Partai Demokrat sekaligus tokoh utama oposisi, Sali Berisha, yang juga pernah menjabat sebagai perdana menteri dan sempat tersandung kasus korupsi, menyebut unjuk rasa tersebut sebagai sebuah "pemberontakan damai" pada momen krusial bagi masa depan Albania. Dalam orasinya di hadapan massa, Berisha menuding Rama telah "menyatakan perang terhadap sistem peradilan."

Namun, sejumlah pengamat meragukan bahwa gelombang protes ini akan membawa perubahan politik yang signifikan. Analis politik Mentor Kikia menilai masyarakat Albania berada dalam posisi skeptis terhadap pilihan politik yang ada.

"Warga tidak lagi percaya, karena selama ini mereka selalu memilih kejahatan yang lebih kecil untuk menyingkirkan kejahatan yang lebih besar dari kekuasaan," kata Kikia, dilansir The Associated Press.

"Persepsi saat ini adalah jika Rama pergi, Berisha akan kembali. Yang satu jatuh dari kekuasaan karena korupsi, yang lain juga seharusnya pergi karena korupsi," lanjutnya.

Albania sendiri tengah berupaya mempercepat proses bergabung dengan Uni Eropa dan berharap bisa menyelesaikan tahapan aksesi pada 2027. Negara Balkan tersebut saat ini berada di bawah pemantauan ketat Uni Eropa terkait reformasi hukum dan tata kelola pemerintahan.

Meski demikian, berbagai lembaga pemantau internasional menilai Albania masih bergulat dengan persoalan korupsi yang meluas, yang terus membayangi stabilitas politik dan ambisi integrasi negara itu ke dalam blok Eropa.

 


(luc/luc)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Kejagung Tetapkan 11 Tersangka Korupsi & Manipulasi CPO