Dunia Bergantung 'Harta Karun Langka' pada China, Ini Buktinya

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Senin, 09/02/2026 18:45 WIB
Foto: Logam Tanah Jarang

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Industri Mineral (BIM) menyoroti tingginya tingkat ketergantungan dunia terhadap China, khususnya dalam rantai pasok Logam Tanah Jarang (LTJ) atau Rare Earth Element (REE). BIM menunjukkan adanya ketimpangan dalam struktur pasar pengolahan mineral strategis tersebut.

Kepala BIM Brian Yuliarto menjelaskan bahwa China saat ini memegang kendali atas rantai pasok LTJ. Berdasarkan data yang disampaikannya, penguasaan China di sektor ini sangat dominan dibandingkan gabungan negara-negara lain.

Dia membeberkan, dari sisi hulu, China merupakan salah satu sumber penambangan LTJ terbesar di dunia, yakni mencapai 60% dari total penambangan LTJ di dunia.


Begitu juga dari sisi pemrosesan menjadi oksida, China kembali menguasai hingga 87% porsi di dunia. Menuju hilir, pada bagian manufaktur logam, paduan, dan magnet, China juga menguasai 91%. Bahkan, sampai manufaktur peralatan, China menguasai 60%.

Sementara untuk negara pesaingnya, khususnya Amerika Serikat (AS), dari sisi penambangan dan benefisiasi LTJ AS "hanya" sebesar 13%, dari sisi pemrosesan menjadi oksida dan juga manufaktur logam, paduan, dan magnet bahkan cuma 1%. Sementara dari sisi manufaktur peralatan LTJ AS sebesar 10%.

"Terutama di sisi industri menengahnya, 87%-91% itu tergantung pada Tiongkok. Dan negara lainnya sangat-sangat kecil, hanya 1%-7%, di bawah 10%," ujar Brian dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI, Jakarta, Senin (9/2/2026).

Dominasi China terhadap rantai pasok LTJ pun saat ini dinilai jadi penyebab dari hilangnya pasar bagi negara-negara konsumen. Kondisi tersebut juga dinilai meningkatkan risiko kerentanan terhadap kebijakan non-ekonomi yang mungkin diterapkan oleh negara produsen utama.

Brian juga memaparkan bahwa LTJ bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan alat strategis geopolitik. Ia mencontohkan pada April 2025, di mana China memberikan sinyal penggunaan LTJ sebagai instrumen tekanan terhadap negara lain.

"Pada April 2025, Tiongkok memberi sinyal penggunaan LTJ sebagai instrumen tekanan terhadap negara-negara lain terutama terhadap Amerika. Ini disebutnya secret weapon-nya Tiongkok," paparnya.

Situasi itu juga sudah memicu respon dari sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat. Brian mencatat bahwa pemerintah AS telah melakukan intervensi pasar dengan meluncurkan pendanaan sebesar US$ 10 miliar setara Rp 168 triliun untuk membangun kemandirian industri LTJ dalam negeri guna mengurangi ketergantungan impor.


(wia)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Trump Diancam Iran Hingga Potret Tebing di Aceh Tengah Runtuh