Negara Arab Ini Siap "Kuasai" Gaza Selatan, Dapat Dukungan Israel?
Jakarta, CNBC Indonesia - Uni Emirat Arab (UEA) disebut tengah menyiapkan rencana pembangunan kompleks perumahan sementara bagi ribuan warga Palestina di Gaza selatan, wilayah yang saat ini berada di bawah kendali militer Israel.
Melansir Reuters pada Jumat (6/2/2026), informasi tersebut terungkap dari peta perencanaan yang dilihat oleh media serta keterangan sejumlah diplomat yang mengetahui inisiatif tersebut.
Peta tersebut menunjukkan lokasi pembangunan bertajuk "Kompleks Perumahan Sementara Emirat UEA" di sekitar Rafah. Kota yang berada dekat perbatasan Mesir itu sebelumnya dihuni sekitar 250.000 orang, namun kini hampir sepenuhnya hancur dan kosong akibat operasi militer Israel selama 2 tahun konflik terakhir.
Rafah diproyeksikan menjadi titik awal rekonstruksi Gaza dalam rencana perdamaian yang diusung Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Skema ini bertujuan menciptakan stabilitas jangka panjang di wilayah pesisir padat penduduk tersebut, meski para donor internasional masih enggan mengucurkan dana karena khawatir konflik kembali pecah akibat sengketa pelucutan senjata Hamas.
Sejumlah diplomat menilai rencana UEA menghadapi tantangan politik serius. Banyak warga Palestina diperkirakan menolak direlokasi ke zona yang dikuasai Israel, sementara mayoritas penduduk sipil Gaza saat ini tinggal di wilayah yang masih dikelola Hamas. Kekhawatiran ini memunculkan keraguan atas kelayakan proyek tersebut.
Rencana Trump juga mencakup pembentukan misi multinasional pimpinan AS yang berbasis di Israel selatan. Dalam kerangka ini, para pejabat UEA disebut telah memaparkan detail pembangunan hunian sementara dan penyediaan layanan dasar di Rafah kepada mitra internasional.
Lokasi kompleks UEA berada dekat "garis kuning" yang disepakati dalam gencatan senjata Oktober lalu sebagai batas wilayah Israel dan Hamas.
Menanggapi laporan tersebut, seorang pejabat UEA menyatakan negaranya "tetap berkomitmen meningkatkan upaya kemanusiaan untuk mendukung warga Palestina di Gaza," namun tidak secara tegas mengonfirmasi maupun membantah rencana pembangunan kompleks perumahan tersebut.
Seorang diplomat mengungkapkan bahwa militer Israel telah membersihkan area luas dari pantai Mediterania hingga Rafah untuk proyek perumahan sementara seperti yang direncanakan UEA. Inisiatif ini dinilai mirip dengan proposal AS sebelumnya yang dikenal sebagai "Komunitas Aman Alternatif", yang kini disebut "Komunitas Terencana".
Pejabat AS menyatakan UEA berkoordinasi erat dengan Washington. "Kami terus terkesan dengan upaya UEA untuk membawa kehidupan yang lebih baik bagi warga Gaza di Gaza," ujar seorang pejabat AS.
Washington berharap proyek hunian di wilayah yang dikuasai Israel dapat mendorong pelucutan senjata Hamas dengan memisahkan populasi sipil dari kelompok tersebut.
Namun, pakar Timur Tengah dari The Soufan Center, Kenneth Katzman, menilai efektivitas rencana ini bergantung pada skala.
"Hanya beberapa proyek perumahan tidak akan mengalahkan Hamas. Anda perlu melakukan banyak hal agar berdampak," katanya.
Para diplomat juga meragukan apakah warga Palestina akan berpindah dalam jumlah besar, mengingat sekitar 53% wilayah Gaza kini dikuasai militer Israel, sementara hampir dua juta warga lainnya bertahan di wilayah Hamas dalam kondisi kamp tenda padat dan reruntuhan.
Â
(luc/luc)[Gambas:Video CNBC]