Kompleks Penipuan Online Tetangga RI Jadi Bom Waktu, Pariwisata Ambruk
Jakarta, CNBC Indonesia - Kamboja saat ini tengah berjuang keras untuk memulihkan sektor pariwisatanya yang terus merosot. Ketegangan geopolitik serta reputasi negara tersebut yang semakin dikenal sebagai pusat kejahatan siber global menjadi faktor utama yang menjauhkan turis mancanegara.
Industri yang dulunya menjadi penggerak utama ekonomi negara tersebut kini mengalami penyusutan. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata Kamboja yang dirilis pada Senin (2/2/2026), kontribusi pariwisata terhadap produk domestik bruto (PDB) hanya mencapai 9,4% pada tahun 2024, turun dibandingkan tahun 2019 yang masih berada di angka 12,1%.
Kamboja berada di bawah pengawasan internasional menyusul laporan bahwa negara itu menjadi pusat operasi pusat penipuan. Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC) pada Juni 2025 melaporkan bahwa keuntungan dari aktivitas ilegal tersebut diduga terikat dengan elite politik di negara itu.
Selain masalah kriminalitas, Kamboja juga terlibat perselisihan dengan negara tetangga, Thailand, terkait sengketa perbatasan lama yang meletus menjadi konflik bersenjata sepanjang tahun 2025. Meskipun kedua belah pihak sempat menyepakati gencatan senjata pada Juni 2025, pertempuran kembali pecah pada awal Desember sebelum akhirnya mencapai kesepakatan damai kembali pada 27 Desember 2025.
Penurunan Drastis Wisatawan Asia Pasifik
Kementerian Pariwisata mencatat kunjungan wisatawan dari wilayah Asia-Pasifik ke Kamboja mengalami penurunan paling tajam, yakni merosot hingga 20% secara tahunan pada 2025. Isu pusat penipuan menjadi alasan utama di balik keraguan para pelancong untuk berkunjung.
Managing Partner di Mekong Strategic Capital, Stephen Higgins, memberikan pandangannya mengenai situasi ini. Menurutnya, isu ini telah memotong banyak turis di wilayah Asia Timur.
"Masalah pusat penipuan jauh lebih bergema di Asia Timur, masyarakat di sana lebih sering mendengarnya. Sebaliknya, masyarakat di AS dan Eropa lebih sedikit mendengar tentang isu scam center tersebut," ujar Higgins kepada CNBC International, Jumat (6/2/2026).
Di kawasan tersebut, penurunan terbesar berasal dari Thailand yang jatuh lebih dari 50% akibat ketegangan perbatasan. Sementara itu, kunjungan turis Korea Selatan anjlok 20,6% setelah Seoul memberlakukan larangan perjalanan ke beberapa wilayah Kamboja pada Oktober 2025 menyusul kematian seorang mahasiswa Korea Selatan yang diduga disiksa di sebuah kompleks penipuan.
Wisatawan asal China sebenarnya sempat menunjukkan tren positif dengan kenaikan 41,5% pada Desember, namun angka tersebut masih kurang dari separuh jumlah sebelum pandemi. Pemerintah China sendiri telah menekan Kamboja untuk menindak pusat penipuan karena reputasi tersebut berisiko merusak hubungan bilateral kedua negara.
Upaya Pemulihan dan Penegakan Hukum
Sebagai upaya memperbaiki reputasi yang tercoreng dan memperkuat hubungan diplomatik, Kamboja mulai melakukan tindakan tegas terhadap operasi kejahatan lintas negara di wilayah mereka. Otoritas setempat dilaporkan telah melakukan ribuan penangkapan terkait jaringan tersebut.
Seorang juru bicara dari Kementerian Dalam Negeri Kamboja menyampaikan perkembangan upaya tersebut pada Sabtu lalu.
"Otoritas negara telah melakukan lebih dari 2.000 penangkapan di pusat penipuan sejauh ini," kata juru bicara Kementerian Dalam Negeri Kamboja.
Pada awal Januari, pihak berwenang Kamboja menangkap Chen Zhi yang diduga sebagai gembong penipuan dan telah mengekstradisinya ke China. Selain itu, kolaborasi dengan Korea Selatan untuk menangani kasus penipuan transnasional juga telah menurunkan status peringatan perjalanan Seoul ke Kamboja menjadi Level 1 atau Level 2 tergantung wilayahnya.
Di sisi kebijakan perjalanan, Kamboja memperkenalkan uji coba pembebasan visa bagi warga negara China mulai Juni hingga Oktober mendatang. Stephen Higgins menilai langkah-langkah penegakan hukum ini merupakan kunci utama kembalinya kepercayaan wisatawan.
"Orang-orang merasa tidak aman untuk datang ke Kamboja, jadi seiring dengan ditutupnya industri penipuan itu, diharapkan masalah reputasi tersebut akan berlalu seiring berjalannya waktu. Hal ini tidak akan terjadi dalam semalam, namun pasti akan terjadi, dan kemudian Anda akan melihat pertumbuhan jumlah pariwisata," tambah Higgins.
(tps/luc)