Mobil Listrik BEV Tendang LCGC-Penjualan Anjlok, Fenomena Musiman RI?

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Kamis, 05/02/2026 13:35 WIB
Foto: Menperin Agus Gumiwang membuka IIMS 2025 di JiExpo Kemayoran, Kamis (5/2/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita memotret kondisi industri otomotif 2025 dengan dua wajah yang sangat kontras. Di satu sisi, segmen mobil murah low cost green car atau LCGC yang selama ini menjadi tulang punggung volume penjualan justru terpuruk. Di sisi lain, kendaraan elektrifikasi melesat dan mulai mengubah peta pasar.

"Penjualan wholesale LCGC pada tahun 2025 hanya mencapai 122.686 unit, turun tajam 30,6% dibandingkan 176.766 unit pada tahun 2024. Pemerintah dalam hal ini tetap akan memberikan perhatian pada pemulihan pasar LCGC nasional, melalui pemberian insentif fiskal yang efektif," ujarnya di Indonesia Internasional Motor Show (IIMS) 2026, Kamis (5/2/2026).

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan tren kendaraan berbasis energi baru yang justru mencatat lonjakan. Menurut Agus, perubahan preferensi konsumen mulai terlihat semakin jelas dalam data penjualan tahunan.


"Penjualan kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) melonjak dari 43.194 unit pada 2024 menjadi 103.931 unit pada 2025. Kendaraan hibrida atau hybrid electric vehicle (HEV) juga tumbuh 15%, dari 56.684 unit menjadi 65.323 unit. Sementara itu, plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) mencatat lonjakan dari hanya 74 unit pada 2024 menjadi 5.235 unit pada 2025," kata dia.

Ia menilai pergeseran ini bukan sekadar fenomena musiman, melainkan cerminan perubahan arah industri otomotif nasional yang semakin condong pada teknologi rendah emisi.

"Tren penjualan kendaraan bermotor roda empat tersebut menunjukkan adanya pergeseran yang signifikan menuju kendaraan yang lebih ramah lingkungan," tutur Agus.

Pemerintah, lanjutnya, melihat perkembangan ini sejalan dengan agenda jangka panjang penurunan emisi karbon nasional.

"Perkembangan ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Indonesia dalam mencapai target Net Zero Emission paling lambat pada tahun 2060. Kendaraan elektrifikasi merupakan salah satu solusi strategis untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dan meningkatkan kualitas udara, khususnya di kawasan perkotaan," ucapnya.

Secara keseluruhan, kontribusi kendaraan elektrifikasi terhadap pasar otomotif nasional juga semakin terasa. Peran insentif fiskal mulai menunjukkan dampak pada produksi dalam negeri. Pada tahun 2025, penjualan wholesales kendaraan elektrifikasi yang mencakup BEV, PHEV, dan HEV tercatat mencapai 175.144 unit, atau sekitar 21,8% dari total wholesales kendaraan nasional.

"Pangsa pasar tersebut meningkat lebih dari 10% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Secara khusus, penjualan wholesales kendaraan BEV pada tahun 2025 mencapai 103.931 unit, di mana 24.727 unit di antaranya merupakan hasil produksi dalam negeri. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa kebijakan insentif fiskal mampu menaikkan produksi kendaraan listrik di dalam negeri," katanya.


(dce)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Ekspansi Produsen EV, Incar Pasar Ojol - Alat Berat Listrik