Kondisi Pedagang Genteng Lagi Susah, Program Prabowo Jadi Angin Segar
Jakarta, CNBC Indonesia - Pedagang genteng di Jakarta mengungkapkan penjualan genteng saat ini sedang lesu, mengikuti kondisi penjualan bahan bangunan lainnya yang juga sedang lesu belakangan ini.
Bahkan, lesunya penjualan genteng membuat beberapa toko genteng pun terpaksa ditutup. Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia di Jalan DI Panjaitan, Cawang, Jakarta Timur pada Rabu (4/2/2026), tepatnya di dekat pertigaan Jalan DI Panjaitan dengan Jalan Kalimalang, dari lima toko genteng yang ada, kini tersisa dua toko yang masih dibuka.
Bahkan, toko genteng yang masih dibuka terlihat sepi dan tidak ada pelanggan yang datang. Beberapa pedagang mengungkapkan sepinya penjualan genteng terjadi sejak Covid-19. Namun, ada juga yang menganggap sepinya penjualan terjadi dalam setahun terakhir.
Salah satunya yakni Hasan, pedagang di toko Genteng Pelita, mengungkapkan kondisinya sepi dalam dua tahun terakhir. Penyebabnya karena lesunya permintaan genteng, terutama di kalangan rumah-rumah.
"Sudah sepi sejak 2 tahun terakhir, sepertinya pelanggan dari rumah-rumah berkurang, paling mereka belinya ya enggak banyak-banyak, bisa 5 buah atau 10 buah," kata Hasan saat ditemui CNBC Indonesia, Rabu (4/2/2026).
Akibatnya, omzet penjualan genteng di tokonya turun drastis, dari sebelumnya sempat mendapatkan puluhan juta hingga ratusan juta per harinya, kini hanya mendapatkan jutaan rupiah.
"Dulu waktu ramai, bisa dapat ratusan juta sehari, sekarang ya boro-boro, Rp 5 juta aja kadang susah," lanjutnya.
Meski begitu, Ia tetap memilih untuk bertahan meski penjualan tak sebanyak dahulu.
"Bertahan saja, kalau enggak, ya mau hidup dari apa," ujarnya.
Senada dengan Hasan, Mario, pedagang di toko Sentra Atap juga mengaku penjualan genteng seperti penjualan bahan bangunan lainnya yang sedang lesu.
"Sejak Covid-19 sampai sekarang, makin turun penjualannya, dulu bisa dapat Rp 100 juta, sekarang ya susah. Ya intinya, sama seperti penjualan bahan bangunan yang sekarang lagi lesu, cuma bisa nutup mata saja lah," kata Mario.
Meski begitu, penjualan genteng satuan masih ada pelanggannya, meski jumlahnya sudah jauh menurun.
"Sekarang yang beli kebanyakan memang satuan ya, sudah jarang yang borongan, makanya kami jual satuan, walaupun pelanggan belinya 1 genteng, tetap dilayani," ujarnya.
Sementara itu Usman, mengaku penjualan genteng sudah lesu sejak 2025. Bahkan kini Ia tidak bisa memprediksi kapan penjualan genteng dapat kembali pulih.
"Sejak 2025 lah kondisi sepi begini, makin susah kita prediksinya, ada musim hujan pun enggak ngaruh," kata Usman.
Kini, pelanggan lebih banyak membeli dalam jumlah satuan, sehingga penjualannya tidak sebesar dahulu.
"Iya, kebanyakan sekarang yang beli satuan, ya bisa 1 buah, 5 buah, kadang pembeli nyari di sini yang gentengnya lagi pecah-pecah, itu kan enggak butuh-butuh banyak," ucapnya.
Foto: Kondisi toko genteng di Jalan DI Panjaitan, Cawang, Jakarta Timur, Rabu (4/2/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi)Kondisi toko genteng di Jalan DI Panjaitan, Cawang, Jakarta Timur, Rabu (4/2/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi) |
Secercah Harapan dari Program Gentengisasi Prabowo
Terkait dengan rencana program gentengisasi, beberapa pedagang ada yant menyambut baik, meski beberapa juga cenderung skeptis.
Usman menjadi salah satu yang cenderung skeptis. Namun Ia berharap rencana tersebut dapat teralisasi.
"terkait wacana gentengisasi, sebenarnya agak skeptis ya, karena kadang cuma wacana saja, tapi ya semoga beneran dilakukan ya, soalnya kalau seperti ini terus, ya bingung juga kami," ucap Usman.
Namun berbeda dengan Usman, Hasan justru mendukung program gentengisasi dan berharap dapat mendongkrak penjualan genteng di tokonya.
"Kalau benar-benar direalisasikan, ya kami dukung sih, karena bisa dongkrak lagi penjualan genteng di sini," tutur Hasan.
(chd/wur)[Gambas:Video CNBC]
Foto: Kondisi toko genteng di Jalan DI Panjaitan, Cawang, Jakarta Timur, Rabu (4/2/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi)