Ramalan Inflasi RI 2026: Meledak di Awal, Melandai Kemudian
Jakarta, CNBC Indonesia - Realisasi inflasi pada Januari 2026 terkerek naik hingga tembus ke level 3,55%, dari Desember 2025 tekanan harga masih di kisaran 2,92%, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS)
Meski tekanan inflasi pada periode awal tahun ini akan masih tinggi, namun menjelang akhir 2026, tekanan inflasi akan melandai, berdasarkan riset tim ekonom LPEM FEB UI.
"Sepanjang sisa tahun, inflasi diperkirakan kembali melandai dan pada akhir tahun berada di sekitar 2,81% sampai 3,00% (YoY), antara lain karena low-base effect yang memudar," dikutip dari Inflation Outlook 2026 LPEM FEB UI, Rabu (4/2/2026).
Menurut BPS, tekanan inflasi pada Januari 2026 disebabkan low base effect atau efek basis rendahnya inflasi pada Januari 2025 karena kebijakan diskon tarif listrik saat itu yang digelontorkan pemerintah.
Namun, selain itu, tim ekonom LPEM FEB UI menganggap, ada pula efek harga komoditas global yang masih cukup tinggi dan bergejolak, hingga depresiasi Rupiah yang sedikit meningkatkan biaya impor.
Selain itu, juga dipicu oleh risiko domestik yang meningkat akibat cuaca buruk dan bencana alam yang dapat mengganggu panen, logistik, serta distribusi pangan maupun kebutuhan pokok lain.
Sedangkan menjelang tutup tahun nantinya, tekanan inflasi akan mereda selain karena mempertimbangkan memudarnya low base effect juga karena tekanan pangan melandai didukung perbaikan tata kelola pasokan dan distribusi.
"Proyeksi ini juga mengandalkan tidak adanya guncangan harga besar yang tiba tiba, ekspektasi yang tetap tertambat oleh kebijakan Bank Indonesia, serta penguatan koordinasi yang lebih baik untuk kebijakan dari sisi pasokan, termasuk logistik dan operasi buffer pangan," kata tim ekonom LPEM FEB UI.
Namun, mereka mengingatkan, risiko inflasi meningkat masih ada, terutama apabila terjadi guncangan energi global yang menaikkan harga BBM dan tarif transportasi domestik, atau gelombang fluktuasi nilai tukar yang lebih tajam sehingga dampak meluas melebihi barang yang diperdagangkan.
Cuaca ekstrem domestik juga dapat mengubah inflasi yang disebabkan harga pangan dari efek sementara menjadi persisten jika mengganggu beberapa siklus panen atau jalur transportasi utama.
Sebaliknya, dari sisi faktor yang dapat menurunkan inflasi, melemahnya daya beli rumah tangga dapat membatasi kemampuan pelaku usaha untuk meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen, sementara stabilisasi harga emas global dapat meredakan tekanan inflasi inti yang sempat relatif lebih tinggi dari biasanya sepanjang tahun lalu.
Terkait potensi efek tekanan nilai tukar rupiah, tim ekonom LPEM FEB UI menganggap dampaknya terhadap inflasi diestimasikan masih terbatas. Elastisitas nilai tukar terhadap tingkat inflasi umum pada tahun 2025 adalah 0,88, sedangkan terhadap inflasi harga barang bergejolak adalah 0,3.
Kedua nilai tersebut di bawah 1, menunjukkan bahwa setiap komponen inflasi kurang sensitif terhadap perubahan nilai tukar. Ini berarti bahwa depresiasi nilai tukar akan menyebabkan inflasi meningkat, tetapi dampaknya akan kurang signifikan
(arj/haa)