Bos Pengusaha Keramik Beberkan Fakta-Bukti RI Sudah Swasembada Keramik
Jakarta CNBC Indonesia - Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) mengungkap perubahan besar di struktur pelaku industri dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya pasar domestik banyak diisi pedagang impor, kini sebagian pemain justru beralih menjadi produsen dalam negeri setelah adanya pengetatan kebijakan standar dan pengamanan perdagangan.
Ketua Umum Asaki Edy Suyanto yang baru terpilih mencontohkan salah satu anggota asosiasi yang sebelumnya dikenal sebagai importir, kini telah membangun fasilitas produksi skala besar di dalam negeri.
"Saudara Haidong ini tadinya importir, sekarang sudah membangun industri. Ini berkat policy yang Bapak dukung, SNI wajib dan anti-dumping. Hari ini semua importir sudah melakukan OEM di pabriknya saudara Haidong. Mereka membangun pabrik dengan kapasitas besar 60 ribu meter persegi per hari dan sedang menyiapkan tambahan lagi 50 ribu meter persegi per hari di Surabaya," ujar Edy saat pelantikan Dewan Pengurus Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) di kantor Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Ia menilai dampak beberapa kebijakan pemerintah seperti SNI wajib impor tidak hanya mengurangi ketergantungan impor, tetapi juga memperkuat kemampuan produksi nasional. Asaki bahkan menyatakan kebutuhan pasar domestik saat ini sudah dapat dipenuhi sepenuhnya oleh industri dalam negeri.
"Multiplier effect dari kebijakan ini sudah mengalir. Kami dengan berani menyampaikan bahwa industri keramik hari ini sudah swasembada," kata Edy.
Langkah tersebut menunjukkan efek berantai kebijakan pemerintah mulai terasa nyata di lapangan. Investasi baru tidak hanya menambah kapasitas produksi, tetapi juga menggeser pola bisnis dari perdagangan menjadi manufaktur.
"Tanpa impor kami sudah bisa memenuhi semua permintaan keramik dalam negeri," katanya.
(dce)