Merdeka Copper Kantongi Pendapatan Rp31,69 Triliun di 2025
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Merdeka Copper Tbk (MDKA) membukukan pendapatan tidak diaudit sebesar US$ 1,89 miliar setara Rp 31,69 triliun (asumsi kurs Rp 16.767 per US$) pada Kuartal IV-2025. Hal itu ditopang tingginya kontribusi sektor emas yang mengimbangi pelemahan pendapatan dari sektor nikel dan tembaga.
Presiden Direktur MDKA Albert Saputro mengungkapkan bahwa tahun 2025 merupakan periode pelaksanaan strategi perusahaan dengan pencapaian yang dinilai solid. Posisi perusahaan saat ini dinilai kuat untuk memasuki fase pertumbuhan berikutnya sembari menjaga stabilitas operasional di seluruh portofolio aset yang dimiliki.
"Pada kuartal IV, kami memajukan platform pertumbuhan sekaligus menjaga stabilitas operasional di seluruh portofolio. Dengan Tambang Emas Pani yang semakin dekat dengan produksi perdana, kinerja berkelanjutan di Tambang Tujuh Bukit, serta peningkatan skala bisnis nikel kami, Merdeka berada pada posisi yang kuat untuk memasuki fase pertumbuhan berikutnya dan menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham dan para pemangku kepentingan," ujar Albert dalam laporan kinerja MDKA, Selasa (3/2/2026).
Dalam laporannya, MDKA mencatat operasional Tambang Emas Tujuh Bukit (TB Gold) memproduksi mencapai 103.156 ons emas sepanjang tahun 2025. Volume penjualan emas perusahaan bahkan menembus angka 104.168 ons dengan realisasi harga jual rata-rata yang melonjak menjadi US$ 3.138 per ounce atau naik 32% dibandingkan tahun sebelumnya (YoY).
Selain Tujuh Bukit, progres Tambang Emas Pani yang dikelola oleh anak usaha PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) juga masuk dalam proses commissioning selama kuartal IV 2025. Hal itu termasuk dimulainya penambangan dan penghancuran bijih, yang memposisikan Pani untuk memulai produksi emas perdana pada kuartal I 2026.
Pada sektor nikel, Tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) di bawah PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) juga mencatatkan pertumbuhan produksi. Sepanjang tahun 2025, produksi saprolit mencapai 7,0 juta wet metric tonnes (wmt) atau naik 42% YoY, sementara produksi limonit menyentuh angka 14,7 juta wmt atau melonjak 45% YoY.
Fasilitas pengolahan hilir, termasuk proyek NPI, AIM, dan HPAL, terus berkembang sesuai rencana, memperkuat posisi terintegrasi Merdeka dalam rantai nilai bahan baku baterai serta mendukung peran Indonesia dalam transisi energi global.
Khusus tembaga, Tambang Tembaga Wetar mencatatkan produksi 2.990 ton tembaga pada Kuartal IV 2025 dan 10.454 ton sepanjang 2025, dengan studi yang masih berlangsung untuk mengevaluasi berbagai opsi perpanjangan umur tambang serta peningkatan tingkat perolehan tembaga jangka panjang.
Dengan begitu, MDKA membidik produksi emas tahun 2026 sebesar 180.000-205.000 ons (menunggu persetujuan RKAB), yang didorong oleh kontribusi Tambang Emas Pani serta produksi berkelanjutan dari Tujuh Bukit.
Adapun, operasi nikel di bawah MBMA menargetkan produksi 8,0-10,0 juta wmt saprolit dan 20,0-25,0 juta wmt limonit (menunggu persetujuan RKAB), guna mendukung peningkatan skala, arus kas, dan ketahanan laba.
Perusahaan memastikan seluruh pencapaian operasional tersebut tetap dibarengi dengan kinerja Environmental, Social, and Governance (ESG). Sepanjang tahun lalu, inisiatif utama perusahaan meliputi peningkatan keselamatan kerja, pengelolaan air, efisiensi energi, hingga reklamasi progresif guna memastikan operasional yang bertanggung jawab dan transparan.
(pgr/pgr)[Gambas:Video CNBC]