Blak-blakan Dubes NATO untuk AS, Iran Akan Di-Libya-kan?
Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kini berada di titik didih seiring dengan pengerahan kekuatan militer besar-besaran oleh Washington ke Timur Tengah. Meski demikian, Amerika menegaskan bahwa pihaknya tidak menginginkan kehancuran total atau destabilisasi di Iran seperti yang pernah terjadi pada krisis Libya tahun 2011 silam.
Duta Besar Amerika Serikat untuk NATO, Matthew Whitaker, menyatakan bahwa Presiden Donald Trump berupaya menggunakan kekuatan militer sebagai alat penekan, bukan penghancur. Menurutnya, Washington sangat menyadari dampak buruk dari penggulingan kekuasaan tanpa rencana matang, berkaca pada jatuhnya Muammar Gaddafi yang meninggalkan Libya dalam kekacauan hingga hari ini.
"Presiden Trump telah memberikan ultimatum kepada mereka. Jelas, dia tidak ingin melihat situasi ini lepas kendali. Kami tidak ingin mendestabilisasi negara seperti Iran sebagaimana Libya di masa pemerintahan Barack Obama ketika Gaddafi disingkirkan dan tidak ada rencana untuk hari setelahnya," ujar Whitaker dalam wawancaranya dengan Fox News, sebagaimana dikutip Senin (2/2/2026).
Ketegangan ini memuncak setelah Washington mengirimkan gugus tugas angkatan laut yang dipimpin oleh kapal induk USS Abraham Lincoln. Presiden Trump sendiri menyebut pengerahan ini sebagai "armada yang indah" dengan misi utama memaksa Teheran menyepakati perjanjian nuklir baru yang lebih ketat.
Whitaker menekankan bahwa kehadiran militer AS di wilayah tersebut merupakan unjuk kekuatan sekaligus jalur keluar bagi Iran untuk melakukan deeskalasi dengan cara menyetujui persyaratan Washington. Ia menegaskan dua syarat utama bagi Iran yakni menghentikan program senjata nuklir dan menghentikan tindakan keras terhadap pengunjuk rasa.
"Amerika Serikat akan bertindak sangat bijaksana dalam menggunakan kekuatannya terhadap Teheran," tegas Whitaker.
Di sisi lain, Teheran tetap bersikeras bahwa program nuklir mereka sepenuhnya bertujuan damai dan membantah tuduhan pengembangan bom atom. Pemerintah Iran juga mengeklaim telah berhasil meredam gelombang protes kekerasan yang mereka tuding sebagai hasil provokasi Amerika Serikat dan Israel demi memicu pergantian rezim.
Meskipun situasi memanas, sinyal dialog mulai muncul dari Moskow. Kepala Dewan Keamanan Nasional Agung Iran, Ali Larijani, melaporkan adanya kemajuan menuju negosiasi dengan Washington usai bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, turut mendesak kedua belah pihak untuk mengedepankan dialog dan memperingatkan bahwa tindakan kekerasan apa pun hanya akan menciptakan kekacauan regional yang berbahaya.
(tps/sef)