Tambang Mineral Strategis Longsor, 200 Orang Lebih Tewas Seketika
Jakarta, CNBC Indonesia - Lebih dari 200 orang dilaporkan tewas akibat runtuhnya tambang coltan Rubaya di Provinsi Kivu Utara, Republik Demokratik Kongo (DRIC). Insiden mengerikan ini terjadi pada hari Rabu (28/1/2026) waktu setempat di tengah kondisi cuaca ekstrem yang melanda wilayah tersebut.
Juru bicara gubernur yang ditunjuk kelompok pemberontak untuk provinsi tersebut, Lumumba Kambere Muyisa, mengonfirmasi skala bencana ini kepada kantor berita Reuters. Ia menyatakan bahwa jumlah korban jiwa sangat masif karena melibatkan banyak elemen masyarakat yang berada di lokasi saat kejadian.
"Lebih dari 200 orang menjadi korban tanah longsor ini, termasuk para penambang, anak-anak, dan perempuan pedagang pasar. Beberapa orang berhasil diselamatkan tepat waktu dan mengalami luka serius," ujar Muyisa sembari menambahkan bahwa sekitar 20 orang yang terluka kini tengah menjalani perawatan intensif di fasilitas kesehatan.
Kondisi geografis dan cuaca buruk disinyalir menjadi penyebab utama ambruknya struktur tanah di tambang tersebut.
"Kita sedang berada di musim hujan. Tanah sangat rapuh. Tanah itulah yang runtuh saat para korban sedang berada di dalam lubang tambang," jelas Muyisa.
Gubernur Kivu Utara bentukan kelompok pemberontak M23, Eraston Bahati Musanga, turut membenarkan adanya evakuasi jenazah meskipun belum bisa merinci angka pastinya.
"Beberapa jenazah telah ditemukan," ungkapnya kepada AFP, mengisyaratkan bahwa jumlah korban tewas memang berpotensi sangat tinggi.
Senada dengan pernyataan tersebut, seorang penasihat gubernur provinsi yang berbicara secara anonim menyebutkan angka kematian telah melampaui 200 orang. Di lokasi kejadian, suasana mencekam masih terasa lantaran banyak korban yang diduga masih tertimbun di kedalaman tanah.
Franck Bolingo, seorang penambang tradisional di Rubaya, memberikan kesaksian pilu mengenai detik-detik bencana itu terjadi.
"Hujan turun, lalu tanah longsor terjadi dan menyapu orang-orang. Beberapa terkubur hidup-hidup, dan yang lainnya masih terjebak di dalam lubang tambang," tuturnya.
Perlu diketahui, tambang Rubaya bukanlah tambang sembarangan. Lokasi ini menyumbang sekitar 15 persen dari total produksi coltan dunia. Coltan merupakan mineral strategis yang diolah menjadi tantalum, logam tahan panas yang sangat dibutuhkan oleh produsen ponsel pintar (HP), komputer, komponen kedirgantaraan, hingga turbin gas.
Meskipun memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi bagi industri teknologi global, kondisi di lapangan sangat memprihatinkan. Para penduduk lokal menggali secara manual hanya demi upah beberapa dolar per hari atau setara puluhan ribu Rupiah.
Di sisi lain, kontrol atas tambang ini telah jatuh ke tangan kelompok pemberontak M23 yang didukung Rwanda sejak tahun 2024, setelah sebelumnya menjadi rebutan antara pemerintah DRC dan berbagai kelompok bersenjata.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan telah menuduh pemberontak M23 menjarah sumber daya Rubaya untuk mendanai pemberontakan mereka guna menggulingkan pemerintah di Kinshasa. Namun, tuduhan dukungan ini dibantah keras oleh pemerintah Rwanda di Kigali.
Tragedi ini kembali menyoroti paradoks kekayaan alam di Kongo. Di tengah kekayaan mineral yang luar biasa dan menjadi rebutan industri raksasa dunia, rakyatnya justru hidup dalam kemiskinan ekstrem.
Lebih dari 70% warga Kongo dilaporkan hidup dengan penghasilan kurang dari US$ 2,15 atau sekitar Rp 36.120 per hari. Jika mengacu pada kurs saat ini, pendapatan tersebut sangat jauh dari kata layak bagi negara yang memasok bahan baku utama teknologi dunia.
(tps/wur)