Kapan Sesar Lembang 'Meledak'? Ini Hitungan Waktunya

Wiji Nur Hayat & Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Sabtu, 31/01/2026 18:15 WIB
Foto: Atlas Siaga Sesar Lembang. (Dok Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah Provinsi Jawa Barat)

Jakarta, CNBC Indonesia - Warga Jawa Barat, khususnya Bandung dan sekitarnya, mungkin sudah akrab dengan sebutan Sesar Lembang. Sesar ini membentang sepanjang hampir 29 Km, mulai dari Padalarang hingga kawasan Cimenyan.

Letaknya tidak jauh dari Kota Bandung, tepat di kaki Gunung Tangkuban Parahu. Namun, sesar ini bukan sekadar garis di peta, melainkan bagian dari sistem geologi aktif yang nyata keberadaannya.

Periset bidang Geologi Gempa Bumi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Mudrik R. Daryono, menjelaskan bahwa Sesar Lembang pada dasarnya adalah patahan besar di kerak bumi yang menjadi jalur pergeseran batuan. Pergeseran yang terjadi lebih banyak mendatar ke arah kiri, sehingga bagian utara dan selatan sesar bergerak saling berlawanan.


"Bukti nyata bisa dilihat dari pergeseran Sungai Cimeta yang telah bergeser sejauh 120 meter, bahkan di beberapa lokasi mencapai 460 meter," ungkap Mudrik dalam keterangan tertulisnya, dikutip Sabtu (31/1/2026).

Selain itu, ada juga pergeseran naik-turun permukaan tanah. Di bagian barat, mulai dari kilometer 0 sampai kilometer 6, permukaannya masih datar. Lalu, muncul perbedaan tinggi hingga sekitar 90 meter sebelum kembali mengecil ke arah timur.

"Secara keseluruhan, pergeseran di Sesar Lembang hampir seluruhnya didominasi oleh pergeseran mendatar, yaitu sekitar 80 sampai 100%. Sedangkan pergeseran naik-turun hanya sekitar 0 sampai 20%," ungkapnya.

Bukti pergeseran sungai dan perubahan tinggi ini, jelas Mudrik, adalah proses sedikit demi sedikit yang berlangsung ratusan ribu tahun hingga sekarang. Proses sedikit demi sedikit gerak ini adalah gerak dari sesar aktif yang menghasilkan gempa bum

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa Sesar Lembang bergerak dengan kecepatan sekitar 1,9 hingga 3,4 milimeter setiap tahun. Meski terlihat sangat kecil, pergeseran yang terus berlangsung ini, bila terakumulasi selama ratusan tahun, dapat memicu terjadinya gempa bumi.

"Hal ini terbukti dari hasil penelitian paleoseismologi melalui penggalian parit di kilometer 11,5, yang menemukan adanya pergeseran setinggi 40 sentimeter. Di mana, bagian selatan sesar terangkat dibanding sisi utara. Pergeseran sebesar itu menjadi bukti nyata bahwa di masa lalu pernah terjadi gempa dengan kekuatan sekitar magnitudo 6,5 hingga 7," jelas Mudrik.

"Perkiraan ini juga sejalan dengan panjang Sesar Lembang yang mencapai 29 kilometer, yang memang berpotensi menghasilkan gempa dengan besaran tersebut," tambahnya.

Penelitian paleoseismologi atau kajian jejak gempa purba menunjukkan bahwa Sesar Lembang telah beberapa kali memicu gempa besar di masa lalu. Peristiwa yang paling muda diperkirakan terjadi pada abad ke-15. Sementara, sebelumnya terdapat bukti gempa sekitar 60 tahun sebelum Masehi yang meninggalkan jejak pergeseran setinggi 40 sentimeter.

Lebih jauh ke belakang, ditemukan pula jejak gempa yang jauh lebih tua, yaitu sekitar 19 ribu tahun lalu. Dari catatan tersebut, para ahli memperkirakan bahwa gempa besar di Sesar Lembang berulang dalam rentang waktu antara 170 hingga 670 tahun.

"Jika mengacu pada siklus ulang gempa besar yang telah diperkirakan, maka secara teoritis gempa besar berikutnya dapat terjadi paling lambat sekitar tahun 2170. Artinya, secara waktu, perkiraan, siklus ini sudah relatif dekat dengan masa sekarang," sebut Mudrik.

Namun, dia menegaskan penting untuk dipahami, ini hanya gambaran rentang waktu, bukan kepastian tentang kapan gempa akan benar-benar terjadi.

Sesar Lembang bukan sekadar garis patahan di peta, melainkan sistem geologi aktif yang keberadaannya dapat terlihat jelas di lapangan. Bukti bahwa pernah terjadi gempa bumi bermagnitudo 6,5-7 juga tampak dari hasil uji parit di kilometer 11,5.

"Pemahaman ilmiah ini sangat penting agar masyarakat lebih siap dan senantiasa waspada dalam menghadapi potensi bencana," tegas Mudrik.

Foto: Ilustrasi hasil trencing (penggalian paritan) hasil gerakan aktif Sesar Lembang. (Dok. BRIN)
Ilustrasi hasil trencing (penggalian paritan) hasil gerakan aktif Sesar Lembang. (Dok. BRIN)

Pesan Kepala BMKG

Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani, pihaknya akan terus memantau aktivitas Sesar Lembang. BMKG akan terus berkoordinasi dengan BPBD, Kementerian PU, hingga Pemda Jabar untuk memberikan peringatan dini bencana.

"BMKG kan kita selama ini banyak menyiapkan data di bagian hulu. Kita memberikan informasi di bagian hulu, di mana daerah-daerah rawan gempa, dan sebagainya. Kita sedang upayakan ya, kalau terjadi gempa, itu akan memberikan informasi early warning, jadi sebelum ada gempa besar itu, dalam artinya kita deteksi dulu, sebelum ada guncangan lebih besar kita harus berikan early warning yang lebih awal kepada masyarakat," kata dia saat dikonfirmasi CNBC Indonesia.

BMKG juga mengimbau agar bangunan yang dibangun di sekitar lokasi terdampak bencana agar tahan terhadap gempa.

"Jadi, ketika kita membangun bangunan di daerah yang tidak rawan gempa dan dengan yang daerah rawan gempa itu most likely di daerah yang rawan gempa ini biayanya akan lebih besar karena dia perlu kuat, pondasinya lebih kuat, dan perlu disusun dengan standar SNI 2.500 tahun. Jadi itu membuat aktivitas bisa kita jalankan, meski di daerah rawan gempa, kita bisa meningkatkan antisipasi dengan membuat bangunan rawan gempa, yang aman terhadap gempa. Supaya kayak electricity, saluran-saluran itu tidak terganggu," bebernya.

Catatan Penutup:

Penelitian ini adalah skenario ilmiah berbasis pemodelan, dengan skenario terburuk, bukan prediksi waktu kejadiannya. Tujuan utama penelitian adalah untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan mitigasi, bukan untuk menimbulkan kepanikan.


(wur)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Gempa M 5,5 Guncang Jatim Hingga Bali Tidak Berpotensi Tsunami