Jalur Mati Kereta Api di Jawa Timur Ini Berpeluang Direaktivasi
Jakarta, CNBC Indonesia - Tingginya minat masyarakat Jember dan Bondowoso terhadap layanan kereta api mendorong perlunya persiapan yang dilakukan secara detail dan matang. Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Surabaya pun telah menyelesaikan kegiatan Survei Identifikasi Desain (SID) sebagai tahap awal untuk memperoleh gambaran kondisi eksisting serta memetakan potensi hambatan pada jalur kereta api nonaktif lintas Kalisat-Bondowoso pada Selasa (27/1/2026).
Kegiatan yang berlangsung selama satu pekan ini bertujuan mengidentifikasi kondisi jalur nonaktif Kalisat-Bondowoso-Panarukan, meliputi trase rel, jembatan, stasiun, lahan, hingga titik-titik yang mengalami kerusakan maupun perubahan fungsi. Selain itu, survei juga mengumpulkan data teknis dasar sebagai referensi awal perencanaan, seperti panjang jalur, kondisi struktur prasarana, serta potensi kendala yang mungkin muncul apabila jalur tersebut diaktifkan kembali.
Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Surabaya, Denny Michels Adlan, mengungkapkan bahwa SID ini akan menjadi landasan awal bagi pelaksanaan survei lanjutan yang lebih komprehensif dan mendalam pada tahap perencanaan berikutnya.
"Kami melakukan pengambilan gambar dan plotting menggunakan GPS agar seluruh kondisi jalur dapat terpetakan secara akurat," ujarnya dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (31/1/2026).
Menurut Denny, kegiatan ini sekaligus mampu mengidentifikasi berbagai potensi hambatan yang akan dihadapi jika jalur kembali dioperasikan.
"Beberapa stasiun telah beralih fungsi. Selain itu, sejumlah jembatan meskipun masih terlihat baik, tetap perlu dianalisis kembali kekuatan strukturnya-apakah masih layak digunakan, perlu penggantian, atau bahkan dibangun ulang apabila mengalami kerusakan berat," jelasnya.
Lebih lanjut, Denny menambahkan bahwa kendala pembukaan kembali jalur Kalisat-Bondowoso kini telah mulai terpetakan. Meski secara trase jalur relatif masih mudah dikenali, diperlukan koordinasi lanjutan dengan para pemangku kepentingan mengingat sejumlah titik jalur berada dekat permukiman dan tidak lagi steril.
"Selain penertiban, perlu pula disiapkan akses jalan alternatif bagi warga, karena beberapa jembatan kereta api saat ini telah dimanfaatkan masyarakat sebagai jalur penyeberangan," tutupnya.
Sebagai informasi, jalur kereta api lintas Surabaya Kota-Kalisat-Bondowoso-Panarukan dibangun oleh perusahaan kereta api Hindia Belanda, Staatsspoorwegen, pada tahun 1897. Segmen Kalisat-Bondowoso-Panarukan berhenti beroperasi pada tahun 2004.
(wur/wur)