MARKET DATA
GOLD OUTLOOK 2026

Imbas Ada Longsoran, Produksi Bijih Tembaga Freeport Masih 30%

Zefanya Aprilia,  CNBC Indonesia
30 January 2026 18:50
Senior Vice President Government Relation PT Freeport Indonesia, Harry Pancasakti menyampaikan paparan dalam acara Gold Outlook 2026 di Menara Bank Mega, Jakarta, Jumat (30/1/2026).
(CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Senior Vice President Government Relation PT Freeport Indonesia, Harry Pancasakti menyampaikan paparan dalam acara Gold Outlook 2026 di Menara Bank Mega, Jakarta, Jumat (30/1/2026).
(CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - SVP Government Relation PT Freeport Indonesia Harry Pancasakti mengungkapkan kapasitas produksi bijih tembaga berada di level 30%. Kondisi ini menyusul adanya longsor pada tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) pada September tahun lalu.

"Saat ini kita mengandalkan dua tambang yang disebutkan belakangan, dimana tambang itu belum tidak terdampak oleh insiden longsor material basah. Dari dua tambang ini kapasitasnya adalah 30% dari total produksi kita," kata Harry dalam Gold Outlook 2026 CNBC Indonesia, Jumat (30/1/2026).

Freeport juga telah mendapatkan rekomendasi dari pemerintah, tim pakar, dan tim independen sebagai langkah mitigasi tambang GBC. Pada akhir kuartal I-2026 diproyeksikan tambang bawah tanah GBC secara parsial.

"Jadi diharapkan nanti dengan mulai akhir kuartal I-2026, sampai ke akhir Desember 2026. Kami harapkan nanti produksi sudah mulai naik, tapi tetap belum bisa mencapai 100% dari kapasitas normal," ungkapnya.

Freeport juga menargetkan bisa menjual sebanyak 26 ton emas batangan ke domestik pada tahun 2026.

"Pada 2026 ramped up tambang GBC, kita bisa produksi yang kita jual ke domestik semuanya sekitar 26 ton ya. Kalau dibandingkan 50-60 ton kita average di atas kapasitas normal, kuncinya mitigasi tambang GBC diharapkan 2027, 2028, 2029 kita kembali emas berada di kisaran 40 ton per tahun," ujarnya.

(rah/rah)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Aktivitas Tambang Freeport Berhenti Sementara, Segini Produksi/Harinya


Most Popular
Features