Gold Outlook 2026

Video: Cara Hilirisasi Emas & Bullion Bank Dukung Target Ekonomi 8%

Gold Outlook 2026, CNBC Indonesia
Jumat, 30/01/2026 17:38 WIB
Jakarta, CNBC Indonesia

Jakarta, CNBC Indonesia- CNBC Indonesia menyelenggarakan Gold Outlook 2026 dengan tema "Membangun Ekosistem Emas Nasional untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi 8%" pada Jumat, 30 Januari 2026 untuk membedah masa depan emas dan ekosistemnya di tanah air, serta bagaimana kontribusinya pada perekonomian Indonesia.

Dalam Gold Outlook 2025, Direktur Hilirisasi Mineral dan Batu Bara, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/ BKPM, Rizwan Aryadi Ramdhan menyoroti lonjakan harga emas yang sudah melampaui level USD 5.000 per Troy ons di awal tahun 2026 menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat ekosistem emas RI melalui peta jalan percepatan pengembangan komoditas emas dan perak untuk mengoptimalkan hilirisasi dari hulu ke hilir. Tujuannya jelas agar Indonesia dapat menjadi pemain utama dalam rantai pasok sektor emas bukan hanya sekedar penonton.

Sementara Chairman Indonesia Mining Institute, Irwandy Arif menyampaikan potensi besar sektor emas RI dengan cadangan no-4 dunia dan dikelola 112 IUP. Namun persoalan Pertambangan ilegal masih cukup besar sebanyak 1.221 lokasi di seluruh Indonesia dengan produksi mencapai 120 ton dan tidak membayar pajak sehingga harus diatasi serta perlu mendorong investasi sektor hilir

Dari sisi Kemenkeu, Direktur Strategi Perpajakan (DJSEF) Kementerian Keuangan RI, Pande Putu Oka Kusumawardani menjelaskan tujuan kebijakan bea keluar ekspor emas yang dikenakan tarif progresif berkisar antara 7,5% hingga 15%. Dimana kebijakan ini ditujukan untuk mendukung penguatan ekosistem emas termasuk bullion bank yang diharapkan bisa mendorong akses keuangan dan menggerakkan sumber pendanaan ekonomi RI.

Bagi sektor pertambangan, lonjakan harga komoditas emas menjadi peluang untuk meningkatkan produksi emas nasional. Dimana ANTAM sebagai BUMN tambang memastikan pengelolaan emasnya dilakukan di Indonesia dan ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat RI. Sementara terkait permintaan emas yang melonjak, Direktur Komersial PT Aneka Tambang Tbk, Handi Sutanto menyebutkan saat ini antrian emas naik 100 kali lipat.

Sementara Senior Vice President Government Relation PT Freeport Indonesia, Harry Pancasakti memastikan upaya PTFI mendorong produksi emas di tengah lonjakan permintaan dan harga komoditas meski saat ini PTFI masih berupaya memulihkan produksi Tambang Bawah Tanah Grasberg Block Cave (GBC) yang mengalami longsor. Di 2026, PTFI menargetkan produksi emas 26 ton emas ke pasar domestik hingga bisa tembus 40 ton di tahun 2028-2029.

Selengkapnya simak ulasan Shafinaz Nachiar dan Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha Badan Usaha Milik Negara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Ferry Irawan dengan Direktur Hilirisasi Mineral dan Batu Bara, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/ BKPM, Rizwan Aryadi Ramdhan serta Direktur Strategi Perpajakan (DJSEF) Kementerian Keuangan RI, Pande Putu Oka Kusumawardani berserta Chairman Indonesia Mining Institute, Irwandy Arif serta Direktur Komersial PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM), Handi Sutanto serta Senior Vice President Government Relation PT Freeport Indonesia, Harry Pancasakti dalam Gold Outlook 2026, CNBC Indonesia (Jum'at, 30/01/2026)