Trump Tiba-Tiba Borong Aset Raksasa Minyak Rusia, Mau Lumpuhkan Putin
Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa minyak asal Rusia, Lukoil, resmi sepakat untuk menjual seluruh aset luar negerinya kepada perusahaan investasi Amerika Serikat (AS) pada Kamis waktu setempat. Langkah divestasi massal ini menjadi sinyal terkuat bahwa sanksi ekonomi yang dijatuhkan Presiden Donald Trump telah menghantam jantung ekonomi Kremlin lebih mematikan daripada serangan militer mana pun dari Ukraina.
Nilai penjualan aset tersebut diperkirakan mencapai US$ 22 miliar (Rp 369,6 triliun), sebuah angka fantastis yang mencerminkan besarnya tekanan Washington. Lukoil terpaksa mengambil langkah ekstrem ini setelah menghadapi sanksi pemblokiran (blocking sanctions) dan syarat divestasi ketat yang diberlakukan AS, yang berpotensi melumpuhkan arus kas ekonomi Rusia secara permanen.
Sebagai perusahaan non-negara terbesar di Rusia dari sisi pendapatan, Lukoil memiliki peran krusial bagi jangkauan internasional Moskow. Berbeda dengan Rosneft yang dikontrol ketat negara, Lukoil selama puluhan tahun telah berekspansi membangun kilang di Eropa, aset hulu di Timur Tengah, hingga memiliki sekitar 200 pom bensin di New York, New Jersey, dan Pennsylvania. Namun, dominasi ini runtuh seketika setelah pemerintahan Trump menjatuhkan sanksi bertarget pada Oktober 2025.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan bahwa Lukoil kini tidak lebih dari sekadar penyokong dana konflik.
"Lukoil adalah bagian dari 'mesin perang Kremlin'. Sekarang adalah waktunya untuk menghentikan pembunuhan dan segera melakukan gencatan senjata," tegas Bessent saat mengumumkan pembekuan seluruh properti dan kepentingan Lukoil di AS, dikutip Newsweek, Jumat (30/1/2026).
Presiden Donald Trump sendiri menunjukkan sikap tanpa kompromi dalam periode kedua kepemimpinannya. Saat dikonfirmasi mengenai sanksi yang melumpuhkan industri energi Rusia tersebut, Trump menyatakan bahwa tindakan ini sudah seharusnya dilakukan sejak lama.
"Saya hanya merasa ini sudah waktunya. Kami menunggu lama. Saya pikir kita akan melakukan ini jauh sebelum masalah di Timur Tengah," ujar Trump singkat.
Departemen Keuangan AS dalam pernyataan resminya menambahkan bahwa langkah ini bertujuan untuk "meningkatkan tekanan pada sektor energi Rusia dan mendegradasi kemampuan Kremlin untuk menghasilkan pendapatan bagi mesin perang mereka serta mendukung ekonomi mereka yang melemah."
Respons keras datang dari sekutu dekat Vladimir Putin, Dmitry Medvedev. Melalui unggahannya di platform X, Medvedev mengecam langkah AS sebagai bentuk pernyataan perang terbuka.
"Keputusan yang diambil adalah tindakan perang terhadap Rusia. Dan sekarang Trump sepenuhnya bersolidaritas dengan Eropa yang gila," tulisnya.
Secara finansial, dampak penjualan ini akan sangat menyakitkan bagi Moskow. Pendapatan anggaran federal Rusia dari pajak minyak dan gas diperkirakan jatuh ke angka US$ 5,41 miliar (Rp 90,8 triliun) pada bulan ini, angka terendah sejak puncak pandemi tahun 2020.
Reuters melaporkan bahwa total penerimaan sektor migas Rusia diprediksi anjlok hingga 46%, memaksa Kremlin melakukan pinjaman berat untuk membiayai belanja militer yang membengkak.
Di tengah tekanan ekonomi ini, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky terus mendesak agar tekanan tidak dikendorkan. Menjelang rencana pertemuan tingkat tinggi pada 1 Februari mendatang, Zelensky menyerukan perlunya sanksi tambahan untuk memaksa Rusia menyerah.
"Akan sangat baik jika pertemuan ini dapat dipercepat," ungkap Zelensky, menekankan bahwa tekanan ekonomi melalui kasus Lukoil ini adalah bukti bahwa strategi sanksi Trump mulai membuahkan hasil nyata.
(tps/tps)