RI Jadi Pemain Kunci Emas, BKPM Ungkap Soal Strategi Hilirisasi
Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Hilirisasi Mineral dan Batu Bara, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/ BKPM Rizwan Aryadi Ramdhan mengungkapkan Indonesia bukan hanya menjadi penonton pada komoditas emas dunia. Menurutnya Indonesia memiliki potensi untuk memanfaatkan emas bukan hanya menjadi perhiasan atau logam mulia, melainkan juga hilirisasi yang lebih kompleks.
"Jadi Indonesia bukan hanya menjadi penonton tetapi menjadi pemain kunci. Dalam peta jalan yang disusun, bukan hanya untuk industri perhiasan atau logam mulia, melainkan untuk semi konduktor," ujarnya dalam Gold Outlook 2026, CNBC Indonesia, Jumat (30/2026).
Saat ini di pasaran, emas masih terbatas sebagai instrumen investasi dan saving, sehingga dibutuhkan hilirisasi untuk memberikan nilai tambah. Rizwan mengatakan berdasarkan roadmap, hingga 2040 permintaan emas global diproyeksikan mencapai 3.900 ton emas.
"Beberapa kebijakan untuk mendorong hilirisasi tersebut di antaranya, harapannya bisa menekan ekspor bahan mentah atau setengah jadi, agar dapat ditingkatkan nilai tambahnya di dalam negeri. Jadi bisa menjadi investasi smelter dan biaya ekspor lebih mahal," ungkap Rizwan.
Inovasi lainnya untuk menjadi pemain kunci emas global adalah melalui bank bullion yang melayani transaksi logam mulia. Dengan begitu, emas dapat bergulir sebagai aset likuid dibandingkan disimpan di luar negeri
"Beberapa upaya pemerintah lainnya adalah percepatan PSN, di Gresik, Sulawesi untuk proyek komoditas emas. Kemudian di PTFI dilakukan peningkatan saham untuk memastikan kendali hilirisasi emas di masa depan," ungkapnya.
(rah/rah)