Menteri PU: Bagaimanapun Caranya, Saya Harus Buat Bos Saya Tersenyum
Padang, CNBC Indonesia - Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengatakan, sebagai pembantu presiden, dirinya tak ingin melihat Presiden Prabowo Subianto menangis karena melihat rakyat kesusahan. Ia harus membuat Presiden Prabowo tersenyum dengan apa yang dikerjakannya.
Berikut wawancara singkat dengan Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo bersama para jurnalis termasuk dari CNBC Indonesia, di sela-sela kunjungan kerja di Sumatera Barat, Kamis (29/1/2026).
Anda sudah satu tahun lebih jadi menteri, apa yang Anda rasakan setahun lebih ini?
Senang sih, bahagia sih. Beda suasana lah, beda tim kerja lah. Menurut saya menyenangkan. Paling tidak apa yang saya kerjakan hari ini bermanfaat bagi masyarakat
Apa yang menjadi hambatan Anda dalam menjalankan tugas?
Hampir nggak ada, paling masalah koordinasi. Itu hebatnya Pak Prabowo Subianto, kita dikumpulin di Magelang, itu amat sangat membantu. Sekarang itu, saya dengan mudah menelepon kementerian/lembaga lain, dengan siapapun, dengan mudah, saya bisa telepon Panglima TNI kapanpun.
Saya masih ingat saat bencana pertama kali terjadi. Saya sengaja tidak bersama Presiden Prabowo, saat di Bandara Pinang Sori Sibolga, yang dikelola oleh TNI AU karena jadi basis pengiriman bantuan. Saya turun pesawat, hilang semua, nggak ada sinyal, nggak apa-apa, solar nggak ada, hanya untuk satu hari. Saya lalu minta hotspot kepala bandara, saya telepon lah Dirut Pertamina. Begitu juga dengan LPF
Ada pendapat Abda, di media sosial menyebutkan, Menteri PU agak lamban bekerja terkait bencana Sumatera?
Saya anggap itu wajar. Maunya kita kalau ada bencana, satu detik kemudian beres semua. Kalau ada teman-teman terkena bencana dan berasumsi seperti itu, saya hanya minta maaf. Tapi tahulah bencana seluas itu yang harus ditangani, ada 52 kabupaten yang terkena bencana.
Filosofi Anda dalam bekerja seperti apa?
Filosofi bekerja, kalau bencana, bagaimana masyarakat terdampak itu , bisa pulih kembali. Kalau Pak Presiden Prabowo itu, kalau rakyatnya kesusahan, dia itu nangis. Jadi tugas saya, salah satu sebagai pembantu beliau, harus membuat bos saya tersenyum, nggak boleh nangis, tugas, gimana caranya. Kalau saya tidak bisa jaga dan beliau tetap nangis, yang bodoh saya, bukan bos saya. Jadi nggak perlu diperintah, nggak perlu. Saya sudah lihat sendiri bagaimana beliau menangis saat melihat rakyatnya susah. Pak Presiden buat Satgas untuk buat jembatan sehingga anak-anak pergi sekolah tidak menyeberang sungai, ibu-ibu hamil nggak bisa melahirkan karena menyeberang sungai. Segitunya Pak Presiden.
Apakah bapak terpengaruh dengan isu reshuffle?
Kan saya sudah bilang, saya ini salah satu pembantu beliau, terserah beliau saja. Itu hak beliau, mau nggak, mau reshuffle, monggo aja
(hoi/hoi)