Mantan Bos BI Soroti Peluang RI Jadi Negara Maju di 2045
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi di 5% secara konsisten dalam sepuluh tahun terakhir. Namun, hal ini tidak cukup untuk keluar dari middle income trap dan mencapai Indonesia Emas 2045.
Hal tersebut diungkapkan oleh Prasasti Board Advisor Burhanuddin Abdullah saat Economy Outlook 2026 di Ritz Carlton, Jakarta pada Kamis (29/1/2026).
"Selama ini Indonesia terbukti konsisten menjaga pertumbuhan di kisaran 5%, yang jelas tidak cukup untuk mengejar cita-cita tadi," katanya.
Dirinya juga memetakan posisi Indonesia dan mengatakan bahwa saat ini ekonomi Indonesia berada di persimpangan dalam meraih tujuan akselerasi pertumbuhan yang lebih cepat.
Sisi pertama menurutnya Indonesia dianugerahi dengan beragam potensi dan keuntungan mulai dari sumber daya alam hingga bonus demografi.
"Di satu sisi, kita masih memiliki peluang yang besar: stabilitas makro yang relatif terjaga, bonus demografi yang masih bersama kita, dan agenda transformasi ekonomi menuju industrialisasi, hilirisasi, digitalisasi, serta transisi energi yang berpotensi tinggi," ucapnya.
Akan tetapi di sisi lain, ekonomi Indonesia juga berhadapan dengan kendala yang semakin nyata. "Perubahan geopolitik dan realitas politik domestik di mana janji-janji pembangunan mulai bertemu dengan kerasnya batas fiskal," ujar Burhanuddin.
"Di tengah dua realitas inilah kita dihadapkan pada sebuah target pertumbuhan ekonomi yang tinggi agar kita bisa cepat keluar dari middle income trap, imbuh Burhanuddin.
Maka dari itu dirinya mengatakan bahwa perekonomian Indonesia membutuhkan daya dorong lain yang cukup kuat agar bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi.
Ia mengusulkan perlunya menyusun langkah strategis seperti pemberantasan korupsi, penyelundupan, penghindaran pajak, under-invoicing, serta penindakan tegas terhadap penyalahgunaan izin dan pemanfaatan sumber daya (termasuk kawasan hutan).
"Kepastian hukum adalah pondasi efisiensi ekonomi. Membangun lembaga yang mampu mengurangi risiko bagi perusahaan yang baru memasuki pasar,' ucapnya.
(haa/haa)