MARKET DATA
Internasional

Trump Cari Cara Gulingkan Khamenei, Siap Jadi "Kompor" Para Demonstran

Tommy Patrio Sorongan,  CNBC Indonesia
29 January 2026 13:30
Presiden AS Donald Trump membuat pengumuman tentang "Armada Emas" Angkatan Laut, sementara Menteri Luar Negeri Marco Rubio mendengarkan, di Mar-a-lago di Palm Beach, Florida, AS, 22 Desember 2025. (REUTERS/Jessica Koscielniak)
Foto: Presiden AS Donald Trump membuat pengumuman tentang "Armada Emas" Angkatan Laut, sementara Menteri Luar Negeri Marco Rubio mendengarkan, di Mar-a-lago di Palm Beach, Florida, AS, 22 Desember 2025. (REUTERS/Jessica Koscielniak)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tengah menimbang berbagai opsi serangan militer terhadap Iran, mulai dari serangan presisi terhadap pasukan keamanan hingga pembunuhan para pemimpin puncaknya.

Langkah berani ini diambil dengan tujuan memicu keberanian para demonstran untuk menggulingkan kepemimpinan ulama di Teheran, meskipun para pejabat Israel dan Arab meragukan kekuatan udara saja mampu meruntuhkan pemerintahan tersebut.

Dua sumber AS yang mengetahui diskusi tersebut mengungkapkan bahwa Trump ingin menciptakan kondisi bagi "perubahan pemerintahan" setelah tindakan keras pemerintah Iran menghancurkan gerakan protes nasional awal bulan ini yang menewaskan ribuan orang.

Untuk mencapai hal itu, Trump membidik para komandan dan institusi yang dianggap Washington bertanggung jawab atas kekerasan tersebut.

"Trump ingin memberikan kepercayaan diri kepada para demonstran bahwa mereka dapat menyerbu gedung-gedung pemerintah dan keamanan," ujar sumber tersebut kepada Reuters, Kamis (29/1/2026).

Salah satu sumber AS menambahkan bahwa pembantu Trump juga membahas opsi serangan yang jauh lebih besar untuk memberikan dampak permanen. Target potensial mencakup fasilitas rudal balistik yang dapat menjangkau sekutu AS di Timur Tengah hingga program pengayaan nuklir Iran. Meski demikian, sumber lain menekankan bahwa Trump belum membuat keputusan akhir mengenai jalur militer yang akan diambil.

Kehadiran kapal induk AS dan kapal perang pendukung di Timur Tengah pekan ini telah memperluas kapabilitas tempur Trump. Namun, rencana ini memicu kekhawatiran mendalam di kalangan diplomat Barat dan pejabat Arab. Mereka khawatir serangan tersebut justru akan memperlemah gerakan rakyat yang sudah terguncang akibat represi paling berdarah oleh otoritas sejak Revolusi Islam 1979.

Alex Vatanka, direktur Program Iran di Middle East Institute, menilai bahwa tanpa adanya pembelotan militer dalam skala besar, aksi protes di Iran akan tetap menjadi gerakan yang "heroik tetapi kalah senjata."

Di sisi lain, Trump terus menekan Teheran dengan retorika keras. Pada hari Rabu, ia mendesak Iran untuk segera berunding mengenai senjata nuklir dan memperingatkan bahwa serangan AS di masa depan akan jauh lebih parah daripada pengeboman tiga situs nuklir pada bulan Juni lalu. Ia bahkan mendeskripsikan armada kapal perang di kawasan tersebut sebagai "armada" yang sedang berlayar menuju Iran.

Menanggapi ancaman tersebut, seorang pejabat senior Iran menyatakan kepada Reuters bahwa negaranya tengah "mempersiapkan diri untuk konfrontasi militer, sambil di saat yang sama memanfaatkan saluran diplomatik." Namun, ia mengeluhkan bahwa Washington tidak menunjukkan keterbukaan terhadap diplomasi.

Misi Iran untuk PBB juga menegaskan melalui platform X bahwa mereka siap berdialog berdasarkan rasa hormat, namun akan membela diri "seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya" jika terdesak.

Keraguan Israel dan Risiko Perang Saudara

Meskipun AS terlihat agresif, Israel sebagai sekutu utama memiliki pandangan yang lebih skeptis terkait efektivitas serangan udara. Seorang pejabat senior Israel yang mengetahui perencanaan antara kedua negara menegaskan bahwa serangan udara saja tidak akan cukup untuk menumbangkan Republik Islam tersebut.

"Jika Anda ingin menggulingkan pemerintahan, Anda harus mengirimkan pasukan darat (boots on the ground)," tegas pejabat Israel tersebut. Ia menambahkan bahwa bahkan jika AS berhasil membunuh Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, Iran akan segera "memiliki pemimpin baru yang akan menggantikannya." Menurutnya, hanya kombinasi tekanan eksternal dan oposisi domestik yang terorganisir yang mampu mengubah arah politik Iran.

Laporan intelijen AS juga mencapai kesimpulan serupa: meskipun kondisi ekonomi buruk dan kerusuhan melemahkan pemerintah, kepemimpinan Iran saat ini belum menunjukkan keretakan besar yang mematikan.

Kondisi kesehatan Khamenei yang sudah berusia 86 tahun juga menjadi sorotan. Ia dilaporkan mulai mundur dari tata kelola harian dan tinggal di lokasi yang sangat aman setelah serangan Israel tahun lalu menewaskan banyak pemimpin militer senior Iran. Saat ini, pengelolaan harian telah bergeser ke tokoh-tokoh yang sejalan dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), termasuk penasihat senior Ali Larijani.

Risiko terbesar dari intervensi militer ini adalah potensi destabilisasi kawasan secara masif. Diplomat Barat memperingatkan bahwa Iran yang hancur bisa terjerumus ke dalam perang saudara seperti Irak tahun 2003, memicu gelombang pengungsi, militansi Islam, dan gangguan aliran minyak melalui Selat Hormuz. Alex Vatanka memperingatkan risiko fragmentasi menjadi "Suriah tahap awal," di mana unit-unit militer dan provinsi yang bersaing akan saling berperang memperebutkan wilayah.

Negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Qatar, dan Mesir pun telah melobi Washington untuk tidak meluncurkan serangan. Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman secara tegas menyampaikan kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian bahwa Riyadh tidak akan mengizinkan wilayah udara atau daratnya digunakan untuk aksi militer terhadap Teheran.

"Amerika Serikat mungkin bisa menarik pelatuknya, tetapi mereka tidak akan menanggung konsekuensinya. Kamilah yang akan menanggungnya," ujar salah satu sumber dari negara Arab.

Hingga berita ini diturunkan, kantor luar negeri Iran, Departemen Pertahanan AS, dan Gedung Putih belum memberikan komentar resmi. Kantor Perdana Menteri Israel juga menolak untuk berkomentar mengenai rincian perencanaan militer tersebut.

(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Trump Pamer Berhasil Hentikan 7 Perang di Dunia, Sindir Peran PBB


Most Popular
Features