Video: Gaspol Bisnis Listrik Hijau, Teknologi-Keekonomian Jadi Kunci
Jakarta, CNBC Indonesia- Pemerintahan Presiden Prabowo memastikan komitmen RI dalam mendorong transisi energi dengan mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT).
Melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 PT PLN (Persero) pemerintah menargetkan penambahan pembangkit listrik sebesar 69,5 Gigawatt dengan EBT mencapai 76% atau 52,9 GW dengan penambahan pembangkit tenaga surya (PLTS) mencapai 17,1 GW. Kebijakan ini sejalan dengan upaya mencapai swasembada energi dan mendorong program transisi energi menuju Net Zero Emission 2026.
Co-Founder and Director Akartha Energy, Aufar Satria menyebutkan perkembangan EBT di Tanah Air terus meningkat di 2025 didukung terus berkembangnya teknologi EBT seperti A Battery Energy Storage System (BESS) dengan harga yang lebih ekonomis. Selain itu bertambahnya pasar baru bagi EBT seiring dengan naiknya kebutuhan energi bersih yang hemat hadapi ketidakpastian serta dukungan kebijakan pemerintah yang fokus mengembangkan EBT.
Meski demikian masih terdapat sejumlah tantangan EBT mendukung transisi energi RI terkait upaya menarik investasi. Dimana dibutuhkan daya tarik terkait teknologi dan keekonomian serta prospek pasar yang menjanjikan bagi investor.
Seperti apa prospek dan tantangan RI kembangkan EBT? Selengkapnya simak Dialog Shinta Zahara dengan Co-Founder and Director Akartha Energy, Aufar Satria dalam Evening Up di CNBC Indonesia (Rabu, 28/01/2026)