MARKET DATA
Internasional

Timur Tengah Memanas, AS Sengaja Pamer Kekuatan Militer di "Muka" Iran

Tommy Patrio Sorongan,  CNBC Indonesia
28 January 2026 09:35
Kapal induk kelas Nimitz USS Abraham Lincoln (CVN 72) dan kapal serbu amfibi kelas Wasp USS Kearsarge (LHD 3) berlayar berdampingan saat Gugus Tempur Kapal Induk Abraham Lincoln (ABECSG) dan Gugus Siap Amfibi Kearsarge (KSGARG) melakukan operasi gabungan di wilayah operasi Armada ke-5 AS di Laut Arab. (Dok. US Navy)
Foto: Kapal induk kelas Nimitz USS Abraham Lincoln (CVN 72) dan kapal serbu amfibi kelas Wasp USS Kearsarge (LHD 3) berlayar berdampingan saat Gugus Tempur Kapal Induk Abraham Lincoln (ABECSG) dan Gugus Siap Amfibi Kearsarge (KSGARG) melakukan operasi gabungan di wilayah operasi Armada ke-5 AS di Laut Arab. (Dok. US Navy)

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) resmi mengumumkan rencana latihan militer besar-besaran selama beberapa hari di kawasan tersebut, berbarengan dengan pengerahan armada tempur yang dipimpin oleh kapal induk nuklir USS Abraham Lincoln.

Pengerahan kekuatan udara dan laut ini dilakukan di tengah kebuntuan hubungan antara Washington dan Teheran. Gedung Putih bahkan telah memberikan sinyal kemungkinan serangan baru terhadap Iran menyusul tindakan keras pemerintah Iran terhadap demonstran pro-demokrasi yang menelan ribuan korban jiwa.

Air Forces Central (CENTCOM) menyatakan pada hari Selasa (27/1/2026) bahwa latihan kesiapan ini bertujuan untuk mendemonstrasikan kemampuan AS dalam menyebarkan dan mempertahankan kekuatan udara tempur di wilayah tanggung jawab mereka.

"Latihan ini dirancang untuk memperkuat kemitraan regional dan mempersiapkan eksekusi respons yang fleksibel," tulis pernyataan resmi CENTCOM.

Meski tanggal dan lokasi spesifik masih dirahasiakan, langkah ini diyakini sebagai pesan terbuka bagi Iran.

Armada tempur yang dikirim AS bukanlah kekuatan sembarangan. Ada, USS Abraham Lincoln, yang merupakan kapal induk bertenaga nuklir dengan puluhan jet tempur dan hampir 5.000 pelaut. Ada juga beberapa kapal pendamping yang dilengkapi sistem pertahanan udara canggih.

Di udara, armada ini dilengkapi skuadron F-15E Strike Eagle, unit jet tempur yang sebelumnya terlibat dalam serangan ke Iran pada April 2024.

Tak hanya itu, ada Jet Typhoon Inggris, di mana London turut memobilisasi jet tempur mereka dalam "kapasitas defensif."

Sebelumnya, Presiden Donald Trump dalam wawancara dengan Axios menegaskan bahwa AS kini memiliki armada besar di dekat Iran, bahkan lebih besar daripada yang dikerahkan saat krisis Venezuela.

Trump mengancam akan menyerang Iran jika Teheran terus melakukan eksekusi massal terhadap demonstran. Laporan lembaga hak asasi manusia memperkirakan hampir 6.000 orang tewas dalam kerusuhan akibat devaluasi mata uang Iran, sementara aktivis lain menyebut angka kematian bisa mencapai 30.000 jiwa di tengah pemadaman internet total.

"Kami memiliki armada besar yang menuju ke sana, dan mungkin kami tidak perlu menggunakannya," ujar Trump, sembari menambahkan bahwa ia tetap membuka pintu dialog jika Iran ingin melakukan kesepakatan.

Meski AS menggandeng Bahrain untuk latihan pertahanan anti-drone, manuver ini justru memicu kekhawatiran dari sekutu kunci lainnya.

Uni Emirat Arab (UEA) secara tegas menyatakan tidak akan mengizinkan wilayah udara, darat, atau perairan mereka digunakan untuk menyerang Iran. UEA memilih untuk menjaga netralitas demi stabilitas regional.

Menanggapi hal tersebut, pihak militer AS berjanji bahwa seluruh aktivitas akan dilakukan dengan persetujuan negara tuan rumah dan koordinasi ketat dengan otoritas sipil serta militer setempat demi menghormati kedaulatan negara mitra.

 

(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Siaga Perang Asia, China Respons Rudal Maut AS di Jepang


Most Popular
Features