Harga Pangan Ini Statusnya Waspada Jelang Ramadan

Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Selasa, 27/01/2026 12:19 WIB
Foto: Pedagag menunggu calon pembeli di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Senin (8/12/2025). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah harga pangan strategis masih menunjukkan tekanan menjelang Ramadan. Meski stok nasional dinilai relatif aman, harga di lapangan belum sepenuhnya terkendali dan masih timpang antarwilayah. Berdasarkan pemantauan Kantor Staf Presiden (KSP), tercatat tekanan harga tidak terjadi secara merata.

Plt Deputi II Bidang Perekonomian dan Pangan KSP Popy Rufaidah menyebut, secara umum kondisi harga pangan berada pada level aman hingga waspada, namun beberapa komoditas tetap memerlukan pengawasan ketat.

"Hasil pemantauan kami menunjukkan harga pangan strategis secara umum masih terkendali, tetapi beras medium di sejumlah zona, serta cabai merah dan cabai rawit masih perlu mendapat perhatian karena sensitif terhadap cuaca dan distribusi," kata Popy dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, yang disiarkan melalui YouTube Kemendagri, Selasa (27/1/2026).


Adapun beras medium menjadi komoditas yang paling mencerminkan ketimpangan antar wilayah. Data KSP per 23 Januari 2026 menunjukkan zona 1 masih aman, dengan harga rata-rata Rp13.433 per kg, lebih rendah dari harga eceran tertinggi (HET) Rp13.500 atau minus sekitar 0,49%, dengan kenaikan bulanan tipis 0,18%.

Namun di zona 2, harga beras medium sudah masuk kategori waspada. Harganya mencapai Rp14.399 per kg atau sekitar 2,86% di atas HET Rp14 ribu, meski kenaikan bulanannya relatif kecil, hanya 0,08%.

Kondisi terberat terjadi di zona 3. Harga rata-rata beras medium mencapai Rp18.475 per kg, atau sekitar 19,2% di atas HET Rp15.500. Meski demikian, secara bulanan harga sudah terkoreksi turun 0,95%.

Foto: Pedagag menunggu calon pembeli di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Senin (8/12/2025). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Pedagag menunggu calon pembeli di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Senin (8/12/2025). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

"Zona 1 aman, zona 2 sudah waspada karena harga sedikit di atas HET, dan zona 3 masih tidak aman dengan harga jauh di atas HET, meskipun terdapat koreksi bulanan," ujarnya.

Ia menegaskan persoalan beras saat ini bukan soal ketersediaan nasional, melainkan masalah distribusi dan akses logistik yang belum merata di berbagai daerah.

Tekanan harga juga datang dari komoditas protein hewani. Harga telur ayam ras nasional masih berada di atas harga acuan penjualan (HAP). Per 23 Januari 2026, harga telur ayam ras tercatat sekitar Rp33.800 per kg atau sekitar 12,7% di atas HAP Rp30 ribu, meski secara bulanan sudah turun 2,59%.

Tingginya harga telur tak lepas dari mahalnya jagung pakan ternak. Saat ini harga jagung di tingkat peternak masih berada di kisaran Rp7.000 per kg, atau lebih dari 20% di atas harga acuan, dengan disparitas antar daerah sekitar 14,23%.

"Jagung pakan perlu diantisipasi karena berkaitan langsung dengan biaya produksi ayam dan telur, sehingga tidak menjadi beban bagi peternak maupun konsumen," kata Popy.

Harga daging ayam ras pun masih berstatus waspada. Rata-rata nasional tercatat sekitar Rp41.800 per kg, atau 4,5% di atas harga acuan Rp40 ribu. Meski secara bulanan turun 1,18%, disparitas harga antar daerah masih mencapai sekitar 21%.

Untuk komoditas hortikultura, bawang merah secara nasional masih berada dalam kondisi tidak aman. Meski dalam sebulan terakhir harganya turun 12,79%, posisi harga masih di Rp45.700 per kg atau sekitar 10,12% di atas batas atas HAP Rp41.500. Di daerah, disparitas harga masih sekitar 28%, dengan Papua menjadi wilayah dengan harga tertinggi.

Bawang putih bahkan masih mencatat kenaikan bulanan sebesar 0,94%. Harga nasional berada di Rp42.900 per kg atau sekitar 12,89% di atas HAP Rp38 ribu, dengan ketimpangan antar wilayah yang juga masih besar.

Sementara itu, harga cabai rawit merah secara nasional berada di kisaran Rp59 ribu per kg, atau sekitar 3,5% di atas batas atas HAP Rp57 ribu. Dalam sebulan terakhir, harga cabai rawit turun tajam hingga 18,96%, menandakan pasokan mulai membaik. Namun, disparitas harga antar daerah masih sangat tinggi, mencapai sekitar 46,5%.

"Harga cabai rawit mulai turun hampir 19%, tetapi disparitasnya masih sangat tinggi sehingga pengendalian harga daerah dan distribusi lintas wilayah tetap perlu dikawal," ungkapnya.

Berbeda dengan cabai rawit, harga cabai merah keriting secara nasional sudah masuk kategori aman di level Rp44.900 per kg, masih dalam rentang HAP Rp37 ribu-Rp55 ribu, dengan penurunan bulanan sekitar 23,77%. Meski begitu, disparitas harga di daerah justru mencapai sekitar 56%.

Untuk minyak goreng merek Minyakita, harga rata-rata nasional masih tercatat sekitar Rp18 ribu per liter, jauh di atas HET Rp15.700 atau selisih sekitar 14,6%. Koreksi bulanan yang terjadi dinilai belum cukup untuk mengembalikan harga ke level wajar. Persoalan Minyakita dinilai bukan hanya fluktuasi harga, tetapi juga kepatuhan HET dan distribusi hingga ke tingkat ritel.

Sedangkan gula pasir curah berada pada status waspada, dengan disparitas harga antar daerah sekitar 13%, masuk kategori sedang. Tekanan harga dinilai masih cukup luas meski tidak setinggi komoditas lain. Popy kembali menegaskan, tantangan utama saat ini terletak pada distribusi antar daerah, bukan pada pasokan nasional.

"Tantangan utama saat ini bukan pada pasokan nasional, tetapi pada distribusi antar daerah, sehingga penguatan pengendalian harga di daerah, percepatan intervensi pasar, dan pengawalan distribusi menjadi kunci," ujarnya.

Lebih lanjut, KSP mencatat empat komoditas dengan risiko sangat tinggi saat ini, yakni beras medium, cabai merah keriting, cabai rawit merah, dan jagung di tingkat peternak. Keempatnya dinilai berpotensi memicu inflasi menjelang Ramadan.

Berdasarkan data historis, terdapat tujuh komoditas yang diproyeksikan menjadi kontributor utama inflasi Ramadan, yakni beras, cabai rawit, Minyakita, daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai merah.

Karena itu, KSP mendorong intervensi lebih dini berbasis zona dan wilayah dengan harga ekstrem, melalui operasi pasar, penyaluran beras SPHP, penguatan TPID, gerakan pangan murah, hingga fasilitasi distribusi lintas wilayah.


(wur)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Stok Beras Aman Tapi Waspada Harga Cabai Rawit Naik di Nataru