Cuaca Ekstrem Ancam Produksi Padi-Bisa Gagal Panen, Harus Bagaimana?
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini curah hujan tinggi masih berpotensi melanda sejumlah wilayah di Indonesia pada Dasarian III Januari 2026.
Dalam Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian II Januari 2026 yang dirilis BMKG di situs resmi pada 23 Januari 2026 mencatat, sejumlah wilayah bahkan mendapat peringatan dini kategori Siaga dan Awas.
Mengutip penjelasan BMKG dalam unggahan di akun Instagramnya, peringatan dini kategori Siaga berarti ada potensi dampak bencana hidrometeorologi berupa banjir, banjir bandang, dan longsor, yang berdampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat, layanan publik, dan infrastruktur.
Sedangkan kategori Awas, ada potensi bencana hidrometeorologi yang meluas, berupa banjir, banjir bandang, danlongsor yang dapat bahkan menyebabkan terhentinya layanan publik, kerusakan signifikan infrastruktur, serta berdampak pada keselamatan.
Lantas, dengan kondisi cuaca seperti itu, bagaimana potensi dampaknya terhadap pertanian sawah di Indonesia?
Kementerian Pertanian (Kementan) mengingatkan, perubahan iklim yang memicu hujan ekstrem dan meningkatkan risiko banjir menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian, khususnya dalam menjaga stabilitas produksi padi nasional. Kondisi ini menuntut langkah yang lebih adaptif dan terukur untuk menekan risiko gagal panen.
"Cuaca ekstrem merupakan ancaman serius bagi produktivitas pertanian karena memicu ketidakpastian musim tanam, kekeringan, dan banjir, yang berpotensi meningkatkan risiko gagal panen," kata Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman dalam keterangan resmi, Senin (26/1/2026).
"Kita harus melakukan mitigasi risiko agar dampaknya tidak mengganggu ketahanan pangan," tegasnya.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menambahkan, perubahan iklim ekstrem meningkatkan risiko gagal panen akibat fluktuasi suhu, perubahan pola curah hujan, dan kejadian cuaca ekstrem yang semakin sulit diprediksi.
"Fenomena ini menjadi ancaman nyata bagi sektor pertanian Indonesia, sehingga sesuai arahan Bapak Menteri Pertanian Amran Sulaiman, diperlukan penguatan kapasitas sumber daya manusia pertanian yang adaptif terhadap iklim," kata Idha.
Sejalan dengan itu, Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari menggelar Millennial Agriculture Forum (MAF) Volume 7 Edisi 4 bertema "Antisipasi Banjir dan Perubahan Iklim: Strategi Tanam Cerdas untuk Meningkatkan Produksi Padi", Sabtu (24/01/26). Forum diharapkan jadi wadah peningkatan literasi iklim serta penguatan kapasitas penyuluh, petani, dan generasi muda pertanian dalam merespons risiko cuaca ekstrem.
"Penguasaan ilmu klimatologi sebagai dasar pengambilan keputusan dalam strategi tanam. Pemanfaatan data dan prediksi cuaca menjadi kunci dalam mengantisipasi risiko iklim di sektor pertanian," kata Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Papua Antonius Suparno, yang jadi narasumber dalam forum tersebut, dikutip dari keterangan resmi Kementan.
"Dengan memahami prediksi cuaca, petani dan pemerhati pertanian dapat melakukan antisipasi dini. Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan fenomena nyata yang sudah dan sedang terjadi," tambahnya.
Langkah Cegah Gagal Panen
Terpisah, Pengamat Pertanian Khudori mengatakan,cuaca ekstrem yang memicu banjir di sejumlah daerah perlu segera diantisipasi agar tidak berujung pada gagal panen petani, terutama di sentra produksi padi.
Kata dia, langkah mitigasi harus dilakukan lewat dua jalur: perbaikan struktural mencakup infrastruktur, dan non-struktural berupa strategi budidaya di tingkat petani.
"Ada pendekatan struktural, ada pendekatan non-struktural," kata Khudori kepada CNBC Indonesia, Senin (26/1/2026).
1) Tanam Varietas Padi Tahan Banjir
Khudori menyebut, salah satu antisipasi cepatnya adalah dengan mendorong petani menanam varietas padi yang tahan genangan, terutama jika wilayahnya berpotensi banjir.
"Hal yang bisa dilakukan, salah satunya adalah ketika ada potensi ancaman atau peluang besar untuk banjir, mestinya petani menanam varietas-varietas yang tahan banjir," ujarnya.
"Varietas-varietas itu ada yang tahan banjir. Jadi walaupun tergenang beberapa hari, dia tetap tegak, dia tetap kokoh gitu ya. Dan memang itu dirakit, diciptakan secara khusus memang untuk mengantisipasi itu," terang dia.
Namun, ia mengingatkan pemilihan varietas di lapangan kerap dipengaruhi permintaan pasar.
"Karena pasti petani ketika menanam bukan semata-mata memperhitungkan soal potensi banjir ya, tapi sejauh mana penerimaan di pasar biasanya," jelasnya.
2) Benahi Irigasi dan Jalur Aliran Air
"Antisipasi dengan cara struktural, antara lain infrastruktur itu dibenahi, disiapkan sehingga kalau ada peluang terjadi bencana itu tidak terlalu destruktif, tidak terlalu berdampak sangat besar," katanya.
Menurutnya, saat musim hujan, yang perlu dipastikan adalah air hujan tidak terbuang sia-sia dan justru menjadi penyebab gagal panen.
"Makanya penting ini diantisipasi, dikendalikan. Bagaimana jaringan irigasi itu dibenerin, kalau dangkal itu dikeruk, dikeduk. Terus embung-embung waduk dan seterusnya yang berguna untuk menampung air ketika musim penghujan, dan itu nanti bisa dimanfaatkan ketika musim kemarau. Itu betul-betul dioptimalkan," ujarnya.
"Kalau belum ada jaringan-jaringan irigasi, ya mestinya secara perlahan dibangun jaringan-jaringan irigasi yang memungkinkan pengaliran air dari wilayah hulu ke hilir itu tidak menjadi destruktif, tidak merusak," ujarnya.
3) Siapkan Jalur Pengaliran untuk Bendungan/Waduk
Khudori menyoroti banyak bendungan, embung, atau waduk besar yang sudah dibangun namun belum berfungsi optimal karena jalur pengalirannya belum tersedia.
"Apa bendungan yang dibangun, embung, atau waduk, itu sebagian besar, terutama yang di periode pak Jokowi yang sudah dibangun sangat besar, kan relatif belum berfungsi sampai sekarang," katanya.
"Belum berfungsi sampai sekarang karena memang jalur untuk pengalirannya belum dibangun. Itu antara lain karena memang keterbatasan anggarannya," ujar Khudori.
4) Gunakan Asuransi Jika Tetap Terjadi Puso
Selain langkah infrastruktur dan varietas, Khudori menyebut asuransi pertanian bisa menjadi proteksi jika banjir tetap berujung gagal panen.
"Kalaupun yang begini-begini (infrastruktur dan pemilihan varietas) sudah disiapkan dan ternyata tetap saja terjadi puso, terjadi kegagalan panen, salah satu proteksi yang bisa dimanfaatkan adalah asuransi. Sampai hari ini kan sebetulnya asuransi itu yang sudah dimulai beberapa tahun lalu belum masif," ujarnya.
Menurut Khudori, petani dengan lahan 0,2-0,3 hektare rata-rata belum mengasuransikan sawah karena pendapatan utama mereka sering kali berasal dari sektor non-pertanian.
"Biasanya mereka-mereka yang lahannya kecil itu seperti tadi yang 0,2-0,3 hektare, pendapatan dari non-usaha tani itu jauh lebih besar. Ini dilema-dilema yang tidak mudah, tidak mudah diselesaikan di lapangan," pungkasnya.
(dce)