ESDM Sebut Ada Perusahaan yang Oke Bangun Proyek Pengganti LPG, Siapa?

Verda Nano Setiawan, CNBC Indonesia
Senin, 26/01/2026 15:35 WIB
Foto: Dirjen Minerba Kementerian ESDM, Tri Winarno saat menyampaikan paparan dalam program CNBC Indonesia Mining Zone. (CNBC Indonesia TV)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan proyek hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang selama ini mencapai jutaan ton per tahun.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno menyadari bahwa proyek DME sendiri hingga kini belum berjalan karena masih terdapat sejumlah pertimbangan teknis. Namun secara keekonomian, menurutnya sudah ada perusahaan yang dinilai layak untuk mengembangkan proyek tersebut.

"Saya beberapa kali sudah menyampaikan bahwa ada perusahaan yang sudah keekonomiannya oke begitu. Nah, memang belum kenapa kok sekarang belum running belum ini dan lain sebagainya ya memang ada beberapa pertimbangan terkait dengan cadangan, terkait dengan letak lokasi posisi geografisnya dimana perusahaan tersebut menginginkan untuk relatif dekat dengan kebutuhan logistik dia," ungkap Tri dalam acara Mining Zone CNBC Indonesia, dikutip Senin (26/1/2026).


Tri menjelaskan, saat ini pemerintah masih melakukan diskusi untuk memastikan kesiapan proyek sebelum masuk tahap konstruksi. Harapannya, ketika nanti dilakukan groundbreaking benar-benar disesuaikan dengan kondisi yang ada.

"Jangan sampai juga groundbreaking terus nanti tidak bisa jalan, tetapi betul-betul groundbreaking yang sudah bisa jalan dan nantinya harapan kita betul-betul bisa menggantikan posisi LPG supaya impor LPG kita bisa berkurang," kata Tri.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa pemerintah tengah mematangkan proyek hilirisasi berbasis Dimethyl Ether (DME) sebagai substitusi impor liquefied petroleum gas (LPG).

Menurut Bahlil, proyek DME cukup penting mengingat Indonesia masih sangat bergantung pada impor LPG. Setidaknya, konsumsi LPG RI mencapai 10 juta ton per tahun sementara kapasitas produksi domestik hanya sekitar 1,6 juta ton.

"Dari 10 juta ton, kapasitas produksi dalam negeri kita hanya 1,6 juta. Artinya kita itu impor 8,4 juta untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri berapa ratus triliun itu devisa kita keluar," kata Bahlil usai Konferensi Pers, di Kementerian ESDM, Kamis (8/1/2026).

Di sisi lain, ia mengakui untuk membangun pabrik LPG dalam negeri tak mudah. Pasalnya, LPG membutuhkan bahan baku gas yang mempunyai kandungan campuran Propane (C3) dan Butane (C4), sementara cadangan gas nasional didominasi oleh C1 dan C2.

"Sementara gas kita itu lebih banyak di C1, C2 Mau tidak mau harus ada substitusi impor Nah caranya adalah memanfaatkan batu bara low kalori untuk DME Itu bisa dipakai untuk mengganti LPG," ujarnya.

Oleh sebab itu, pihaknya terus mendorong agar proyek hilirisasi batu bara menjadi DME dapat segera terealisasi.


(wia)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Harga Komoditas Turun, Target Sektor Minerba 2026 Apa Kabar?