Tambang Bawah Tanah GBC Freeport Ditargetkan Operasi Lagi di Q2-2026
Jakarta, CNBC Indonesia - Freeport-McMoRan (FCX) menargetkan tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) dapat beroperasi kembali pada kuartal II 2026.
Seperti diketahui, tambang GBC di Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah yang dioperasikan PT Freeport Indonesia, hingga saat ini masih dihentikan akibat insiden longsor material basah yang terjadi pada September 2025 lalu.
Berdasarkan laporan terbarunya, Freeport-McMoRan menyampaikan sejak insiden tersebut terjadi, PTFI telah melakukan berbagai upaya penanganan serta persiapan untuk memastikan proses restart berjalan secara aman.
"Menyusul insiden luapan lumpur eksternal pada 8 September 2025, PTFI telah melakukan berbagai kegiatan untuk menangani insiden tersebut, serta mempersiapkan dimulainya kembali operasi secara aman dan berkelanjutan," tulis manajemen FCX, dikutip Senin (26/1/2026).
Adapun, pada akhir Oktober 2025, PTFI telah lebih dulu mengaktifkan kembali operasi di tambang bawah tanah Deep Mill Level Zone (DMLZ) dan Big Gossan yang tidak terdampak oleh insiden longsoran tersebut. Sementara, investigasi dan rencana perbaikan di area GBC telah rampung pada kuartal IV 2025.
Sedangkan, proses restart dan peningkatan kapasitas produksi GBC akan dimulai pada kuartal II 2026. Rencana tersebut mencakup dimulainya kembali Blok Produksi 2 dan 3 pada kuartal II 2026, serta potensi dimulainya kembali operasi di Blok Produksi 1 pada tahun 2027.
"Pengaktifan kembali dan peningkatan produksi secara bertahap dari tambang bawah tanah Grasberg Block Cave diperkirakan akan dimulai pada kuartal kedua tahun 2026," ungkap laporan FCX tersebut.
Berdasarkan estimasi perusahaan saat ini, PTFI memperkirakan sekitar 85% dari total kapasitas produksi pada tingkat operasi normal akan pulih pada paruh kedua 2026.
Sejumlah tahapan penting, seperti pembersihan lumpur di area tambang, perbaikan infrastruktur pendukung, serta pemasangan penghalang pelindung, saat ini disebut berjalan sesuai jadwal.
Akibat insiden longsoran material basah di tambang bawah tanah GBC ini, PTFI juga berupaya mendapatkan ganti rugi berdasarkan polis asuransi properti dan gangguan bisnisnya, yang mencakup kerugian hingga US$ 1,0 miliar (dengan batasan US$ 0,7 miliar untuk insiden bawah tanah), setelah dikurangi biaya tanggungan sendiri sebesar US$ 0,5 miliar.
Berdasarkan laporan FCX, dikutip Jumat (23/1/2026), produksi emas PT Freeport Indonesia pada 2025 secara akumulasi tercatat turun menjadi 900.000 ons dan tembaga menjadi 1,0 miliar pon. Angka tersebut jauh di bawah tingkat produksi normal yang seharusnya bisa mencapai 1,3 juta ons emas dan 1,7 miliar pon tembaga per tahun.
Jumlah produksi emas pada 2025 tersebut juga tercatat anjlok nyaris 50% dibandingkan produksi pada 2024 lalu. Pada 2024, produksi emas PTFI tercatat mencapai 1,86 juta ons. Sementara produksi tembaga pada 2025 ini turun 43,6% dari 1,80 miliar pon pada 2024.
(wia)