MARKET DATA
Internasional

Perang Saudara Tetangga RI, Militer Bom Pengungsian-Puluhan Tewas

luc,  CNBC Indonesia
25 January 2026 08:15
Serangan udara junta Myanmar menewaskan sedikitnya 40 orang di sebuah desa di negara bagian Rakhine barat. (The Arakan Army via AP)
Foto: Serangan udara junta Myanmar menewaskan sedikitnya 40 orang di sebuah desa di negara bagian Rakhine barat. (The Arakan Army via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan udara militer Myanmar menghantam sebuah desa di negara bagian Kachin yang menjadi tempat perlindungan warga pengungsi, menewaskan sedikitnya 21 orang dan melukai puluhan lainnya, di tengah persiapan putaran terakhir pemilu yang direncanakan junta militer akhir pekan ini.

Kelompok pemberontak etnis Kachin Independence Army (KIA) dan media lokal melaporkan, serangan terjadi pada Kamis di Desa Hteelin, wilayah barat Kota Bhamo, sebuah daerah di utara Myanmar yang saat ini menjadi lokasi pengungsian bagi ratusan warga yang terdampak konflik bersenjata.

Juru bicara KIA, Kolonel Naw Bu, mengatakan sebuah jet tempur militer menjatuhkan bom ke sebuah kompleks tempat warga berkumpul untuk berdoa bagi orang-orang yang telah meninggal, yang juga berfungsi sebagai kamp pengungsi.

"Jet tempur mengebom sebuah kompleks tempat para pelayat berkumpul untuk doa bagi orang yang meninggal, sebuah kamp bagi pengungsi, juga sebuah sekolah dan pasar desa," kata Naw Bu, dilansir The Associated Press.

Ia menyebutkan sekitar 500 orang, termasuk warga yang mengungsi dari daerah lain, berada di desa tersebut saat serangan terjadi. Selain 21 orang tewas, sebanyak 28 orang lainnya dilaporkan terluka, termasuk seorang bayi. Beberapa korban berada dalam kondisi kritis.

"Di antara yang terluka terdapat seorang bayi, dan beberapa orang berada dalam kondisi kritis," ujar Naw Bu.

Laporan mengenai serangan tersebut tidak dapat diverifikasi secara independen karena akses internet dan jaringan telepon seluler di wilayah itu sebagian besar terputus.

Namun, sejumlah media berbasis di Kachin mempublikasikan foto dan video yang mereka sebut sebagai kondisi pascaserangan, yang memperlihatkan jenazah warga serta bangunan-bangunan yang rusak parah.

Serangan ini terjadi menjelang putaran ketiga dan terakhir dari pemilu tiga tahap yang direncanakan oleh pemerintah militer Myanmar, yang akan digelar pada Minggu. Bhamo merupakan salah satu dari tiga wilayah di Kachin yang dijadwalkan menggelar pemungutan suara.

Secara nasional, pemilu hanya akan berlangsung di 61 dari total 330 wilayah administratif di Myanmar.

Namun, Naw Bu menegaskan bahwa pelaksanaan pemilu di Bhamo kemungkinan besar tidak dapat dilakukan.

"Pemilu tidak mungkin digelar di Bhamo karena pusat kota berada di bawah kendali KIA dan pasukan sekutu," katanya.

Bhamo terletak sekitar 280 kilometer di timur laut Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar.

Adapun Myanmar telah dilanda krisis politik dan keamanan sejak militer merebut kekuasaan dari pemerintahan terpilih pimpinan Aung San Suu Kyi pada 1 Februari 2021. Kudeta tersebut memicu gelombang protes besar-besaran di seluruh negeri.

Setelah aksi demonstrasi damai dibubarkan dengan kekerasan mematikan, banyak penentang pemerintahan militer kemudian mengangkat senjata. Sejak itu, sebagian besar wilayah Myanmar terjerumus dalam konflik bersenjata.

Menurut data yang dikompilasi oleh sejumlah organisasi non-pemerintah, lebih dari 7.700 orang diperkirakan telah tewas akibat tindakan aparat keamanan sejak kudeta.

Pemerintah militer juga disebut telah meningkatkan intensitas serangan udara terhadap kelompok bersenjata pro-demokrasi, termasuk People's Defense Force (PDF), serta kelompok-kelompok pemberontak etnis yang selama puluhan tahun menuntut otonomi lebih besar dari pemerintah pusat.

KIA merupakan salah satu kelompok pemberontak etnis paling berpengaruh di Myanmar. Kelompok ini diketahui memproduksi sebagian senjatanya sendiri dan memiliki hubungan aliansi longgar dengan milisi pro-demokrasi yang melawan pemerintahan militer.

 

(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Kemlu Ungkap Isu Penting Ini Akan Dibahas di KTT ASEAN Malaysia


Most Popular
Features