Resmi! AS Angkat Kaki dari WHO, Dunia Kesehatan Terguncang
Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat secara resmi keluar dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) pada Kamis (22/1/2026) waktu setempat, mengakhiri keanggotaannya di badan kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa itu setelah setahun penuh peringatan dari para pakar bahwa langkah tersebut berpotensi merugikan kesehatan publik, baik di dalam negeri AS maupun secara global.
Keputusan ini diambil pemerintah Presiden Donald Trump dengan alasan utama kegagalan WHO dalam menangani pandemi Covid-19. Trump sebelumnya telah memberikan pemberitahuan resmi mengenai rencana penarikan diri Amerika Serikat dari WHO pada hari pertama masa kepresidenannya pada 2025 melalui sebuah perintah eksekutif.
Dalam siaran pers bersama dari Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS (HHS) serta Departemen Luar Negeri, pemerintah menyatakan bahwa AS hanya akan bekerja sama dengan WHO dalam kapasitas yang sangat terbatas guna memuluskan proses penarikan diri.
"Kami tidak memiliki rencana untuk berpartisipasi sebagai pengamat, dan kami juga tidak memiliki rencana untuk bergabung kembali," kata seorang pejabat senior kesehatan pemerintah AS, dilansir Reuters.
Pemerintah AS menegaskan akan memilih bekerja langsung dengan negara-negara lain, alih-alih melalui organisasi internasional, dalam urusan pengawasan penyakit dan prioritas kesehatan publik lainnya.
Sengketa Iuran
Berdasarkan hukum Amerika Serikat, pemerintah seharusnya memberikan pemberitahuan satu tahun dan melunasi seluruh kewajiban iuran, yang diperkirakan mencapai sekitar US$260 juta, sebelum benar-benar keluar dari WHO.
Namun, seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS membantah bahwa aturan tersebut mewajibkan pembayaran penuh sebelum penarikan diri.
"Rakyat Amerika telah membayar lebih dari cukup," kata seorang juru bicara Departemen Luar Negeri dalam sebuah email pada Kamis.
Departemen Kesehatan AS dalam dokumen yang dirilis pada hari yang sama menyatakan bahwa pemerintah telah menghentikan seluruh kontribusi pendanaan kepada WHO.
"Ini adalah pelanggaran yang jelas terhadap hukum AS," kata Lawrence Gostin, Direktur Pendiri O'Neill Institute for Global Health Law di Universitas Georgetown, Washington, yang dikenal sebagai pengamat dekat WHO. "Tetapi Trump sangat mungkin lolos begitu saja."
Juru bicara HHS mengatakan Trump menggunakan kewenangannya untuk menghentikan transfer sumber daya pemerintah AS ke WHO, dengan alasan bahwa organisasi tersebut telah "menghabiskan triliunan dolar AS" dari Amerika Serikat.
Sementara itu, menurut sejumlah saksi, bendera AS telah dicopot dari depan kantor pusat WHO di Jenewa, Swiss, pada Kamis.
Ketua Gates Foundation sekaligus tokoh filantropi global, Bill Gates, mengatakan kepada Reuters di Davos bahwa ia tidak berharap AS akan mengubah keputusan dalam waktu dekat.
Gates mengatakan dirinya tetap akan mendorong agar AS bergabung kembali. "Dunia membutuhkan Organisasi Kesehatan Dunia," ujarnya.
Dalam beberapa pekan terakhir, AS juga bergerak untuk keluar dari sejumlah organisasi PBB lainnya.
Sejumlah pihak menilai langkah ini berpotensi melemahkan sistem multilateral, terlebih setelah Trump meluncurkan inisiatif baru bernama Board of Peace alias Dewan Keamanan, yang oleh sebagian pengamat dikhawatirkan dapat menggerus peran PBB secara keseluruhan.
Beberapa pengkritik WHO bahkan mengusulkan pembentukan badan kesehatan global baru untuk menggantikan organisasi tersebut. Namun, sebuah dokumen proposal yang ditinjau pemerintahan Trump tahun lalu justru menyarankan agar AS mendorong reformasi internal dan memperkuat kepemimpinan Amerika di dalam WHO, bukan keluar sepenuhnya.
Dampak bagi WHO
Kepergian AS telah memicu krisis keuangan di tubuh WHO. Organisasi itu terpaksa memangkas setengah jajaran manajemennya dan mengurangi berbagai program kerja, termasuk memotong anggaran di hampir seluruh lini.
Selama ini, Washington merupakan penyumbang dana terbesar bagi WHO, dengan kontribusi sekitar 18% dari total pendanaan organisasi. WHO juga akan mengurangi sekitar seperempat jumlah stafnya hingga pertengahan tahun ini.
WHO menyatakan bahwa selama setahun terakhir pihaknya masih bekerja sama dengan Amerika Serikat dan berbagi informasi. Namun, belum jelas bagaimana bentuk kerja sama ke depan setelah penarikan resmi ini.
Para pakar kesehatan global menilai keputusan tersebut membawa risiko serius, tidak hanya bagi WHO, tetapi juga bagi Amerika Serikat dan dunia.
"Penarikan AS dari WHO dapat melemahkan sistem dan kolaborasi yang selama ini menjadi andalan dunia untuk mendeteksi, mencegah, dan merespons ancaman kesehatan," kata Kelly Henning, pimpinan program kesehatan publik di Bloomberg Philanthropies, sebuah lembaga nirlaba berbasis di Amerika Serikat.
(luc/luc)