Bahlil Rapat dengan Pertamina Sampai Jam 2 Malam, Ini yang Dibahas
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa dirinya menggelar rapat dengan PT Pertamina (Persero) hingga dini hari. Adapun rapat secara khusus membahas strategi pengurangan impor bahan bakar minyak (BBM), khususnya bensin.
Menurut Bahlil, rapat tersebut berlangsung hingga pukul 02.00 WIB dan membahas kebutuhan investasi untuk merealisasikan pengurangan impor bensin.
"Saya minta kemarin dengan Pertamina, saya pimpin dapat sampai Jam 2 malam, Jam 2 subuh. Ada yang mengatakan, Pak, butuh investasi. Saya bilang, ya ini butuh investasi," kata Bahlil dalam Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI, dikutip Jumat (23/1/2026).
Bahlil menyampaikan Presiden Prabowo Subianto menegaskan kebijakan di sektor energi harus dijalankan secara total dan tidak setengah-setengah. Ke depan pemerintah menargetkan impor BBM terus ditekan secara bertahap, sembari mendorong peningkatan produksi minyak mentah dalam negeri.
"Jadi itu, Pak. Nah, ujungnya apa ke depan, Pak Bambang? Ujungnya itu adalah kita impornya crude saja, sambil kita mendorong peningkatan lifting," kata Bahlil.
Ia lantas mengaku tidak ingin terlalu optimistis terhadap target peningkatan lifting minyak hingga 1,6 juta barel per hari pada 2029. Menurutnya, hanya Allah yang tahu tercapai atau tidaknya target tersebut.
"Kita enggak usah baku tipu dalam ruangan ini. Tapi kalau 800 ribu, 900 ribu, insya allah masih bisa. Tapi persoalannya kan strateginya bagaimana agar balance antara lifting, kebutuhan BBM dengan konsumsi," ujarnya.
Sebelumnya, Bahlil mengatakan pemerintah bakal mewajibkan badan usaha swasta penyalur Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk menyerap produk kilang dalam negeri terlebih dahulu.
Hal itu menyusul peningkatan produksi BBM dalam negeri, termasuk produk bensin dengan nilai oktan (RON) 92, 95 dan 98, setelah beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, Kalimantan Timur.
Seperti diketahui, proyek RDMP Balikpapan yang memakan investasi sebesar US$ 7,4 miliar atau sekitar Rp 123 triliun ini baru saja diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada hari ini, Senin (12/01/2026).
Proyek RDMP Balikpapan ini menambah kapasitas pengolahan minyak mentah sebesar 100.000 barel per hari (bph) menjadi 360.000 bph dari sebelumnya 260.000 bph.
Ia menyebut, rencana kebijakan tersebut merupakan buah dari rapat antara pihaknya dengan pihak PT Pertamina (Persero) yang berlangsung hingga Senin (12/01/2026) jam 2 dini hari.
"Tadi malam Bapak Presiden, kami laporkan rapat sampai jam 2 pagi Pak. Kami telah bersepakat dengan Pak Simon dan seluruh Direksi dan Komisarisnya tadi malam, Komut hadir. Nanti Pak, dengan RDMP ini, kita akan meningkatkan produksi RON 92, 95 dan 98. Itu supaya tidak kita impor lagi Pak. Supaya badan-badan usaha swasta ini beli produksi dalam negeri lewat Pertamina," katanya di hadapan Presiden Prabowo Subianto saat memberikan sambutan pada acara peresmian Infrastruktur Energi Terintegrasi Pertamina RDMP Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/01/2026).
(pgr/pgr)