MARKET DATA

Tersisa Pertalite, RI Bakal Setop Impor BBM Pertamax Cs di 2027

Verda Nano Setiawan,  CNBC Indonesia
23 January 2026 08:10
Nozzle BBM Pertamax dan Pertamax Turbo di SPBU Pertamina. (Dok: PT Pertamina Patra Niaga)
Foto: Nozzle BBM Pertamax dan Pertamax Turbo di SPBU Pertamina. (Dok: PT Pertamina Patra Niaga)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menargetkan penghentian impor produk Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bensin dapat dilakukan pada tahun 2027 mendatang.

Penghentian impor hanya berlaku untuk jenis BBM beroktan tinggi, mulai dari RON 92, RON 95, hingga RON 98. Sementara, BBM bersubsidi seperti RON 90 yakni Pertalite masih akan dipenuhi melalui impor.

"Bensin yang RON 92, 95, 98 jadi tinggal kita impor itu yang RON 90 saja yang untuk subsidi itu untuk BBM," kata Bahlil dalam Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI, dikutip Jumat (22/1/2026).

Ke depan, kata Bahlil, kegiatan impor tak lagi berlaku untuk produk BBM, melainkan akan lebih banyak mengimpor minyak mentah yang nantinya akan diolah di kilang dalam negeri.

Selain penghentian impor produk BBM beroktan tinggi, pemerintah juga menargetkan penghentian impor avtur dapat dilakukan pada tahun 2027 mendatang.

"Sekarang kami dengan Pertamina bekerja keras agar kelebihan solar yang 1,4 juta dikonversi menjadi bahan baku dalam membangun avtur agar 2027 betul-betul kita sudah tidak melakukan impor," katanya.

Di tahun ini, Kementerian ESDM sudah yakin akan menutup keran impor BBM solar jenis C48. Hal ini didukung dengan berjalannya program mandatory biodiesel 40% atau B40 dan juga beroperasinya Refinery Development Master Plan (RDM) Balikpapan milik PT Pertamina (Persero).

Indonesia berhasil surplus solar hingga 1,4 juta Kilo Liter (KL). "Maka 2026 kita tidak lagi, saya ulangi, kita tidak lagi melakukan impor solar. Namun kalau solar C51 sekarang kita lagi mendesain mesinnya itu nanti di semester ke-2 baru tidak melakukan impor jadi semester 1 tetap C51 tetap kita impor tapi volumenya tidak banyak," tegas Bahlil.

(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]

Most Popular
Features