Prasetyo Hadi Singgung Giant Sea Wall untuk Selesaikan Masalah Banjir

Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
Kamis, 22/01/2026 18:50 WIB
Foto: Mensesneg Prasetyo Hadi dalam Konferensi Pers Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan, Kantor Presiden, 20 Januari 2026. (Tangkapan Layar Youtube)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyinggung penyiapan pengerjaan proyek tanggul raksasa atau Giant Sea Wall untuk menyelesaikan persoalan banjir, termasuk yang berada di Jakarta. Selain itu Prasetyo juga mendapatkan arahan untuk membuat grand desain untuk menyelesaikan persoalan air.

Saat ini pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Termasuk dengan Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) untuk melakukan modifikasi cuaca yang dilaksanakan di Jabodetabek untuk mengurangi tingginya curah hujan.


"Bapak presiden memerintahkan kepada kami membentuk tim kajian untuk mencoba menganalisa dan kemudian membuat grand desain penyelesaian masalah-masalah yang berkenaan dengan air, pengelolaan air, terutama khususnya di pulau Jawa," kata Prasetyo, di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (22/1/2026).

Menurutnya banjir sudah menjadi permasalahan yang berulang tiap tahun. Sehingga semua pihak harus berpikir untuk melakukan penyelesaian permasalahan banjir dari hulu ke hilir.

Pasalnya, menurut laporan dari Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin ada penambahan satu titik jalur kereta yang terendam, menjadi 17 titik.

"Jadi perhatian bapak presiden untuk bagaimana kita bisa menyelesaikan itu dari hulu ke hilir, termasuk dengan tim otorita pengelolaan pantai utara jawa atau yang selama ini dikenal dengan sedang mempersiapkan untuk proyek giant sea wall," kata Prasetyo.

Prasetyo melihat bahwa faktor curah hujan tinggi di akhir Januari ini bukan satu-satunya penyebab banjir. Selain itu adanya perubahan tata ruang yang berpengaruh, seperti pendangkalan aliran daerah sungai, juga jumlah situ atau waduk kecil yang berfungsi menampung air hujan.

"Termasuk data mengatakan bahwa wilayah Jabodetabek ini dulunya memiliki kurang lebih 1.000 situ atau danau atau telaga yang menjadi reservoir daerah tangkapan air. Nah menurut data terakhir hari ini kurang lebih hanya tersisa dua ratus situ, ini tentu menjadi perhatian kita bersama," kata Prasetyo.

Oleh karena itu, menurut Prasetyo, meminta jajarannya berkerja keras mulai dari Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Koordinator bidang Infrastruktur, Kementerian PU, Kementerian ATR/BPN, Kementerian Kehutanan, Kementerian Pertanian, Kementerian Dalam negeri untuk melakukan analisa.

"Untuk secepatnya mencari dan menganalisa supaya ke depan dapat kita selesaikan secara menyeluruh dari hulu sampai ke hilir," katanya.


(haa/haa)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Di Tengah Tantangan Global, Ekonomi Jakarta Tetap Tumbuh Positi