MARKET DATA
Internasional

Raksasa NATO Siaga Invasi Trump, Siapkan Pasukan ala "Mujahidin"

Tommy Patrio Sorongan,  CNBC Indonesia
22 January 2026 21:10
Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Kanada Mark Carney bertemu di Ruang Oval di Gedung Putih di Washington, D.C., AS, 6 Mei 2025. (REUTERS/Leah Millis)
Foto: Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Kanada Mark Carney bertemu di Ruang Oval di Gedung Putih di Washington, D.C., AS, 6 Mei 2025. (REUTERS/Leah Millis)

Jakarta, CNBC Indonesia - Militer Kanada dilaporkan telah menyusun draf model respons terhadap hipotesis invasi Amerika Serikat (AS). Laporan Globe and Mail yang mengutip pejabat pertahanan senior menyebutkan bahwa strategi tersebut membayangkan perang gaya pemberontakan tidak konvensional yang terinspirasi oleh pejuang mujahidin Afghanistan.

Keputusan tersebut kabarnya dipicu oleh meningkatnya ketegangan di internal NATO yang dipicu oleh kampanye Presiden AS Donald Trump untuk mengambil alih Greenland dan saran berulangnya agar Kanada menjadi bagian dari AS.

Menurut laporan tersebut, yang juga dikutip Russia Today, Kamis (22/1/2026), para perencana militer memodelkan serangan dari arah selatan dengan perkiraan bahwa pasukan AS akan melindas posisi darat dan laut utama Kanada hanya dalam waktu dua hari.

Karena tidak mampu menghalau serangan konvensional, militer Kanada membayangkan perang gaya pemberontakan dengan unit-unit kecil pasukan tidak reguler atau warga sipil bersenjata yang melakukan sabotase, serangan pesawat nirawak (drone), dan taktik tabrak lari. Taktik ini secara khusus mencontoh operasi mujahidin Afghanistan saat melawan pasukan Uni Soviet dalam perang tahun 1979-1989.

Hal ini diyakini sebagai pertama kalinya dalam satu abad bagi Angkatan Bersenjata Kanada memodelkan potensi serangan AS terhadap negara tersebut, mengingat Kanada adalah anggota pendiri NATO dan mitra lama AS dalam pertahanan udara kontinental.

Para pejabat menekankan bahwa model tersebut adalah sebuah kerangka kerja konseptual dan teoritis, bukan sebuah rencana militer yang siap eksekusi.

Invasi AS sebenarnya dianggap tetap tidak mungkin terjadi, meskipun ambisi Trump terhadap Greenland dilaporkan mendorong para perencana militer untuk memeriksa skenario terburuk tersebut.

Trump sendiri telah lama berupaya mengambil alih wilayah Arktik otonom milik Denmark tersebut dengan alasan keamanan dan kebutuhan untuk menandingi pengaruh Rusia serta China.

Retorika ini telah memicu gesekan hebat dengan mitra NATO di Eropa yang menolak perubahan status apa pun di Greenland dan memperingatkan bahwa langkah tersebut dapat mengakhiri aliansi tersebut. Pekan lalu, Trump mengumumkan tarif baru pada negara-negara Eropa yang menentang rencananya kecuali sebuah kesepakatan dapat dicapai.

Trump juga berulang kali menyarankan agar Kanada menjadi negara bagian AS ke-51 dengan argumen bahwa hal itu akan memberikan keuntungan besar bagi warga Kanada.

Pada hari Senin, ia mengunggah gambar hasil kecerdasan buatan (AI) yang memperlihatkan dirinya bertemu dengan para pemimpin Eropa di Ruang Oval dengan peta yang menunjukkan bendera AS berkibar di atas Greenland, Kanada, Kuba, dan Venezuela.

Pemerintah Kanada sendiri telah tegas mengesampingkan opsi untuk bergabung dengan AS dan menyatakan bahwa masa depan Greenland adalah keputusan mutlak bagi warga Greenland dan Denmark.

"Jika kita tidak berada di meja makan, maka kita ada di dalam menu," ujar Perdana Menteri Kanada Mark Carney pada pertemuan World Economic Forum di Davos.

Carney mendesak negara-negara dengan kekuatan menengah untuk bertindak bersama guna mencegah tekanan dari negara-negara pengguna kekuatan besar yang secara tersirat merujuk kepada Amerika Serikat.

Carney dikabarkan sedang mempertimbangkan untuk mengirim kontingen kecil pasukan Kanada ke Greenland sebagai bentuk nyata dukungan mereka terhadap kedaulatan wilayah tersebut.

(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article NATO Pecah! Trump Siapkan Militer untuk Rebut Greenland, Ini Waktunya


Most Popular
Features