Pabrik Ban China Investasi Rp 4,2 Triliun di Indonesia
Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah melemahnya industri ban nasional akibat menurunnya penjualan kendaraan, masih ada perusahaan China yang berani membangun pabrik di Indonesia. Terbaru Sailun membangun fasilitas manufaktur di Demak, Jawa Tengah dengan nilai investasi US$251,44 juta atau Rp4,2 triliun dan akan memproduksi ban radial untuk kendaraan penumpang (PCR), bus dan truk (TBR), serta alat berat (OTR).
"Dengan beroperasinya basis manufaktur Sailun di Indonesia, kami membangun ekosistem produk dan layanan yang lengkap, mulai dari PCR, TBR, OTR, hingga TUBE dan FLAP, yang berakar pada semangat Made in Indonesia," ujar Direktur Sales & Marketing PT Sailun Tire Indonesia Eko Supriyatin dikutip Rabu (21/1/2025).
Pada fase awal, pabrik Sailun Indonesia ditargetkan memiliki kapasitas produksi tahunan hingga 3,6 juta ban PCR, 600 ribu ban TBR, dan 37.000 ton ban OTR. Selain memenuhi kebutuhan domestik, fasilitas ini juga dirancang sebagai basis ekspor untuk kawasan Asia Pasifik.
Tak hanya berfungsi sebagai pusat produksi, Sailun Indonesia juga dikembangkan sebagai hub distribusi dan layanan purna jual nasional.
"Ini bukan hanya perluasan kapasitas produksi, tetapi juga peningkatan kemampuan kami dalam menyediakan produk dan layanan yang lebih lokal, responsif, dan terintegrasi bagi para mitra," kata Eko.
Padahal sejak beberapa waktu lalu sejumlah pabrik ban lokal mulai merumahkan sebagian pekerjanya. Misalnya Michelin yang disebut-sebut sempat melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 285 karyawannya. Selain itu Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) Aziz Pane mengungkapkan, situasi di lapangan semakin mengkhawatirkan.
"Di salah satu pabrik di dekat Bogor itu, Cileungsi, ada 100 orang. Tapi kayak yang di Cileungsi itu ataupun di pabrik-pabrik yang lain itu negosiasi sama karyawan, kamu saya keluarin dulu, tiga bulan saya panggil lagi. Tapi gajinya itu di-stop," kata Aziz kepada CNBC Indonesia, Kamis (1/11/2025).
Fenomena pekerja dirumahkan kini meluas ke berbagai wilayah industri ban di Indonesia. Meskipun belum ada pabrik yang benar-benar tutup, ribuan tenaga kerja terdampak oleh kebijakan efisiensi ini.
"Ada 20 pabrik ban motor dan mobil, belum ada yang ditutup, hanya merumahkan, kira-kira 60-70 ribu orang pekerja di industri ban, dikali 3 aja yang jadi tanggungan. Tapi the real thing betul-betul kita itu ada problem," ujarnya.
(hoi/hoi)