Internasional

AS Bakal Angkat Kaki dari 200 Posisi di NATO, Aliansi Pecah?

luc, CNBC Indonesia
Rabu, 21/01/2026 10:50 WIB
Foto: REUTERS/Yves Herman

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat berencana mengurangi jumlah personel militernya yang ditempatkan di sejumlah pusat komando utama NATO, sebuah langkah yang berpotensi memperkuat kekhawatiran di Eropa mengenai komitmen Washington terhadap aliansi pertahanan tersebut.

Tiga sumber yang mengetahui pembahasan ini, sebagaimana pertama kali dilaporkan The Washington Post, mengatakan kebijakan itu telah dikomunikasikan pemerintahan Presiden Donald Trump kepada beberapa ibu kota Eropa.

Sebagai bagian dari rencana tersebut, Amerika Serikat akan menghapus sekitar 200 posisi dari sejumlah entitas NATO yang bertanggung jawab mengawasi serta merencanakan operasi militer dan intelijen aliansi. Ketiga sumber itu meminta identitasnya dirahasiakan karena membahas komunikasi diplomatik yang bersifat tertutup.


Beberapa lembaga yang terdampak, menurut sumber tersebut, antara lain NATO Intelligence Fusion Centre yang berbasis di Inggris, serta Allied Special Operations Forces Command yang berkedudukan di Brussel. Selain itu, STRIKFORNATO di Portugal, yang mengoordinasikan sebagian operasi maritim NATO, juga akan mengalami pengurangan personel, bersama sejumlah entitas NATO lainnya.

Para sumber tidak memerinci alasan spesifik di balik keputusan AS tersebut. Namun, kebijakan ini secara umum sejalan dengan niat pemerintahan Trump untuk mengalihkan lebih banyak sumber daya ke kawasan Belahan Bumi Barat.

Meskipun demikian, pengurangan tersebut relatif kecil jika dibandingkan dengan keseluruhan kekuatan militer AS di Eropa, dan belum tentu menandakan perubahan besar dalam strategi Amerika di benua itu. Saat ini, sekitar 80.000 personel militer AS ditempatkan di Eropa, hampir separuhnya berada di Jerman.

Namun, langkah ini tetap diperkirakan akan memicu kegelisahan di kalangan negara-negara Eropa, terutama di tengah meningkatnya ketegangan terkait masa depan NATO.

Kekhawatiran tersebut semakin besar setelah Presiden Trump gencar melontarkan wacana untuk "mengambil alih" Greenland dari Denmark, yang memunculkan kemungkinan agresi teritorial di dalam aliansi NATO sendiri.

Pada Selasa pagi, Trump, yang dijadwalkan terbang ke Swiss untuk menghadiri World Economic Forum, membagikan ulang unggahan pengguna lain di media sosial yang menyebut NATO sebagai ancaman bagi Amerika Serikat. Dalam unggahan itu, China dan Rusia digambarkan hanya sebagai "boogeymen".

Menanggapi permintaan komentar, seorang pejabat NATO mengatakan perubahan jumlah staf AS bukanlah hal yang tidak biasa dan kehadiran Amerika di Eropa saat ini justru lebih besar dibanding beberapa tahun terakhir.

"NATO dan otoritas AS terus berkoordinasi secara erat mengenai postur keseluruhan kami untuk memastikan NATO tetap memiliki kapasitas yang kuat dalam mencegah dan mempertahankan diri," kata pejabat NATO tersebut, dilansir Reuters.

Salah satu sumber mengatakan sekitar 400 personel AS saat ini ditempatkan di lembaga-lembaga yang akan mengalami pengurangan, sehingga total jumlah personel Amerika di badan-badan tersebut akan berkurang sekitar setengahnya.

Alih-alih menarik langsung personel dari posisinya, AS disebut akan memilih untuk tidak mengisi kembali posisi yang kosong ketika para personel tersebut selesai masa tugasnya.

Pengurangan ini terjadi pada saat NATO menghadapi salah satu periode paling sensitif secara diplomatik dalam sejarah 77 tahunnya. Pada masa jabatan pertamanya, Trump pernah mengancam akan menarik AS keluar dari NATO.

Saat kampanye, ia juga mengatakan akan "mendorong" Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menyerang negara-negara anggota NATO yang dinilai tidak membayar kontribusi pertahanan secara adil.

Namun, pada paruh pertama 2025, Trump terlihat lebih lunak terhadap NATO dan bahkan memuji secara terbuka Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte serta para pemimpin Eropa setelah mereka sepakat meningkatkan belanja pertahanan dalam KTT NATO bulan Juni.

Dalam beberapa pekan terakhir, kebijakan pemerintahannya kembali memicu kekhawatiran di Eropa.

Pada awal Desember, pejabat Pentagon menyampaikan kepada para diplomat bahwa AS ingin Eropa mengambil alih sebagian besar kemampuan pertahanan konvensional NATO, mulai dari intelijen hingga sistem rudal, paling lambat pada 2027, tenggat waktu yang dianggap tidak realistis oleh pejabat Eropa.

Tak lama setelah itu, sebuah dokumen strategis keamanan nasional AS menyerukan agar Amerika mengalokasikan lebih banyak sumber daya militernya ke kawasan Belahan Bumi Barat, yang menimbulkan pertanyaan apakah Eropa masih akan menjadi prioritas utama Washington.

Memasuki awal 2026, Trump kembali menghidupkan kampanye lamanya untuk mengakuisisi Greenland, wilayah otonom Denmark. Langkah ini memicu kemarahan di Kopenhagen dan di berbagai negara Eropa, yang menilai agresi teritorial di dalam NATO dapat mengakhiri keberlangsungan aliansi tersebut.

Pada akhir pekan lalu, Trump juga mengatakan akan mengenakan tarif terhadap beberapa negara anggota NATO mulai 1 Februari karena dukungan mereka terhadap kedaulatan Denmark atas Greenland. Pernyataan itu membuat pejabat Uni Eropa mulai mempertimbangkan langkah balasan berupa tarif tandingan.

 


(luc/luc)
Saksikan video di bawah ini:

Video: NATO Pecah! Trump Nekat Mau Rebut Greenland, Eropa Ngamuk