Ekonom Wanti-Wanti Aksi Trump Bisa Ditiru China
Jakarta, CNBC Indonesia - Kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dapat mendisrupsi pertumbuhan ekonomi dunia. Misalnya saja kebijakan tarif dagang dan yang paling kontroversial adalah penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi mengatakan kebijakan Trump memberikan disrupsi ke geoekonomi dan geopolitik,
"Nah ini makanya Global Risk Report dari World Economic Forum tahun 2026 ini kemudian mencanangkan global atau geoekonomi confrontation sebagai salah satu disrupsi dunia," ucapnya saat Outlook Perpajakan & Partnership Gathering IKPI 2026, Jakarta pada Selasa (20/1/2026).
Dirinya mengatakan bahwa aksi Trump menangkap Maduro memberikan dampak ketidakamanan global.
"Karena siapa yang bisa menjamin ketika Trump bisa menarik Maduro secara paksa bahwa Rusia tidak bisa melakukan terhadap Zelensky, China tidak bisa melakukan terhadap Taiwan. Itu tidak ada yang bisa menjamin," imbuhnya.
Meskipun demikian, Fithra mengatakan bahwa isu keamanan dan pertahanan sudah masuk dalam visi presiden Prabowo Subianto melalui Asta Cita.
"Kalau mau damai harus siap-siap perang. Maka kita harus senantiasa waspada dan bersiap-siaga. Makanya kalau di Asta Cita, yang merupakan Asta Cita nomor dua, itu ketahanan keamanan menjadi prinsip yang paling penting," ujarnya.
Perlu diwaspadai juga bahwa kejadian geopolitik memberikan efek ketidakpastian ekonomi.
Dana Moneter Internasional alias IMF memperbarui ramalan ekonominya untuk 2026-2027. Pertumbuhan dunia mereka perkirakan akan stagnan, diiringi terus melemahnya tekanan inflasi hingga merosotnya volume perdagangan dunia.
Dalam World Economic Outlook (WEO) Update edisi Januari 2026, IMF memperkirakan, pertumbuhan ekonomi untuk 2026 akan berada pada level 3,3%, tak berubah dari estimasi pertumbuhan 2025 sebesar 3,3% dan 2024 yang juga di level 3,3%. Namun, untuk 2027, ekonomi global IMF perkirakan turun ke level 3,2%.
Tekanan terhadap perekonomian dunia IMF perkirakan masih akan terjadi akibat efek ketidakpastian kebijakan ekonomi dan kebijakan perdagangan yang rapuh di berbagai negara, konflik geopolitik, hingga kondisi pasar keuangan yang juga sangat rentan.
(haa/haa)