Wamen PU Bongkar Biang Kerok Tol Sedyatmo Sering Banjir
Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Menteri Pekerjaan Umum (Wamen PU) Diana Kusumastuti membeberkan alasan ruas Tol Sedyatmo arah Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) kerap dilanda genangan hingga banjir. Menurutnya, persoalan tersebut bukan semata-mata terjadi di badan jalan tol, melainkan dipengaruhi kondisi kawasan di sekitarnya.
"Itu (genangan air, red) sebenarnya sekarang ini bukan hanya di jalan tolnya tetapi ada kaitannya dengan kawasan. Karena setelah kita pompa dari jalan tol ternyata kawasannya juga banjir sehingga meluap lagi," ungkap Diana saat ditemui usai Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Diana menjelaskan, sistem drainase di sekitar Tol Sedyatmo tidak bisa dipisahkan dari wilayah penyangga, termasuk aliran Kali Perancis hingga saluran pembuangan menuju laut. Karena itu, penanganan banjir tidak cukup dilakukan hanya dengan memperbaiki atau memompa air dari ruas tol.
"Nah, ini harus kita rapatkan dan ini sudah ada kajiannya yang melibatkan bukan hanya dari Direktorat Jenderal Bina Marga tetapi juga dari Direktorat Jenderal Sumber Daya Alam (SDA). Dan juga Pemerintah Provinsi Banten serta (Pemprov) DKI Jakarta," ujarnya.
Ia mengatakan, air yang dibuang dari jalan tol ke saluran bisa kembali memicu genangan jika kapasitas saluran di kawasan sekitar sudah meluap. Artinya, persoalan utama ada pada arah dan kemampuan pembuangan air dari kawasan tersebut.
"Kalau kita buang dari jalan tol, kita buang ke saluran tapi ternyata salurannya juga sudah meluap, kan balik lagi nanti (banjirnya). Nah, ini yang perlu diperhatikan adalah arah keluarnya air," terang dia.
Diana menyebut kajian penanganan banjir di Tol Sedyatmo masih terus dimatangkan, termasuk opsi pengelolaan aliran air melalui Kali Perancis sampai ke laut. Ia menargetkan kajian tersebut bisa segera final sehingga penanganan bisa dieksekusi pada 2026.
"Nah, ini masih harus kita diskusikan lagi kajiannya, semoga di awal tahun ini nanti kita sudah ketemu kajiannya seperti apa, dan kita kerjakan di tahun 2026," pungkasnya.
(haa/haa)[Gambas:Video CNBC]