MARKET DATA
Internasional

Tetangga RI Patok Pertumbuhan Ekonomi 10%, Reformasi Besar-besaran

Tommy Patrio Sorongan,  CNBC Indonesia
21 January 2026 06:45
Pemandangan kota Hanoi di tengah polusi udara, Vietnam, 11 Desember 2025. (Tangkapan Layar Video Reuters/)
Foto: Pemandangan kota Hanoi di tengah polusi udara, Vietnam, 11 Desember 2025. (Tangkapan Layar Video Reuters/)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemimpin tertinggi Vietnam, To Lam, menyampaikan visi ambisius dalam pembukaan Kongres Partai Komunis Vietnam yang digelar lima tahun sekali di Hanoi, Selasa (20/1/2026). Dalam pidatonya, ia berjanji untuk memacu pertumbuhan ekonomi tahunan hingga di atas 10% hingga akhir dekade ini serta memperkuat pemberantasan korupsi.

Sekretaris Jenderal Partai Komunis tersebut menekankan bahwa segala bentuk pelanggaran hukum harus ditindak tegas. Ia mendesak adanya reformasi administrasi besar-besaran untuk mengatasi masalah "pemborosan dan negativitas" di lingkungan pemerintahan.

"Infrastruktur harus dikembangkan untuk beradaptasi dengan perubahan iklim dan memastikan konektivitas regional, antarwilayah, serta global yang kuat," ujar Lam di hadapan hampir 1.600 delegasi partai, dikutip dari Al Jazeera.

Target pertumbuhan ekonomi sebesar 10% per tahun hingga 2030 merupakan lonjakan signifikan bagi negara Asia Tenggara tersebut. Berdasarkan dokumen partai yang ditinjau Reuters, target ini menjadi landasan utama bagi Vietnam untuk memperkuat posisinya di rantai pasok global.

Untuk mencapai target tersebut, Lam yang kini berusia 68 tahun menyatakan bahwa Vietnam perlu memangkas birokrasi dan memperluas perdagangan global guna melindungi kepentingan nasional dan kemandirian negara.

Lam sendiri dikenal sebagai pemimpin yang bergerak cepat. Sejak menjabat 17 bulan lalu, ia telah melakukan perampingan pemerintahan secara radikal dengan menghapus delapan kementerian/lembaga dan memangkas hampir 150.000 pekerjaan di sektor publik. Di sisi lain, ia terus mendorong proyek-proyek ambisius seperti pembangunan jaringan kereta api dan proyek ketenagalistrikan.

Kongres yang berlangsung selama satu pekan ini tidak hanya menetapkan arah ekonomi, tetapi juga akan memilih Sekretaris Jenderal Partai, posisi paling berkuasa di Vietnam.

Banyak pengamat memprediksi bahwa To Lam akan tetap mempertahankan jabatan tersebut sekaligus mengincar posisi Presiden negara. Jika hal ini terjadi, Lam akan memiliki peran ganda yang serupa dengan Presiden China, Xi Jinping.

"Jika ia memegang kedua posisi puncak tersebut, ia akan memiliki mandat terkuat dalam kepemimpinan Vietnam sejak berakhirnya Perang Vietnam," kata Nguyen Khac Giang dari ISEAS-Yusof Ishak Institute Singapura.

To Lam mengakui bahwa ambisinya ini datang di tengah tantangan global yang berat, mulai dari bencana alam, risiko keamanan, hingga persaingan strategis antarnegara besar yang mengganggu rantai pasok energi dan pangan.

Ia juga menegaskan komitmennya untuk terus memerangi korupsi dan menjadikan sektor swasta sebagai pilar penting ekonomi.

Media pemerintah Viet Nam News melaporkan bahwa dokumen partai yang dipresentasikan dalam kongres menyerukan penegakan disiplin hukum yang ketat. Langkah ini diambil untuk mengatasi masalah kronis di mana "hukum sudah bagus tetapi implementasi sulit" atau kondisi "banyak bicara tapi sedikit tindakan" yang selama ini dianggap mengikis kepercayaan publik dan membuang sumber daya nasional.

Kongres Partai Komunis Vietnam ini diharapkan akan mengukuhkan posisi To Lam sebagai tokoh sentral yang akan membawa Vietnam bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi baru di Asia dalam lima tahun ke depan.

(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Simak! Proyeksi Terbaru Ekonomi RI dari IMF, Bank Dunia & ADB


Most Popular
Features