Seorang polisi militer berjaga di Kota Guatemala setelah serangan geng terhadap aparat keamanan menyusul kerusuhan penjara dan aksi penyanderaan yang memicu gelombang kekerasan, menewaskan serta melukai sejumlah orang, Senin (19/1/2026). Menyikapi situasi tersebut, Presiden Guatemala Bernardo Arevalo menetapkan keadaan darurat nasional selama 30 hari sejak Minggu. (REUTERS/Cristina Chiquin)
Petugas kepolisian dari Kepolisian Sipil Nasional Guatemala berpatroli menggunakan sepeda motor untuk menyisir seluruh kota. Dalam pernyataannya, Arevalo menegaskan bahwa penerapan keadaan darurat akan difokuskan secara eksklusif pada pemberantasan kejahatan terorganisir. Ia memastikan kebijakan tersebut tidak akan membatasi kehidupan sehari-hari maupun mobilitas warga sipil. (REUTERS/Cristina Chiquin)
Berdasarkan hukum Guatemala, keadaan darurat memungkinkan pemerintah untuk membatasi atau menangguhkan sementara sejumlah kebebasan sipil serta memperluas kewenangan pasukan keamanan dalam menghadapi ancaman terhadap ketertiban umum. Pemerintah menilai langkah ini diperlukan untuk mengendalikan eskalasi kekerasan yang dipicu oleh kelompok kriminal terorganisir. (REUTERS/Cristina Chiquin)
Kerusuhan di penjara terjadi pada Sabtu pagi, ketika para narapidana menyandera 46 orang di tiga penjara khusus pria. Pemerintah menyalahkan aksi tersebut pada geng Barrio 18, yang disebut tengah berupaya menekan otoritas agar memberikan hak istimewa lebih besar bagi anggotanya di dalam lembaga pemasyarakatan. (REUTERS/Cristina Chiquin)
Selain kerusuhan di penjara, kekerasan yang dipimpin geng juga menargetkan aparat kepolisian di sejumlah wilayah Guatemala. Aksi ini terjadi setelah pasukan keamanan merebut kembali kendali atas penjara tempat pemimpin Barrio 18, Aldo Duppie, ditahan. Duppie, yang dikenal dengan julukan El Lobo, telah dibawa kembali ke tahanan dalam operasi keamanan tersebut. (REUTERS/Cristina Chiquin)