RI Penghasil Kopi Tapi Harga Dikendalikan Inggris, Begini Kata Mendag
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia memiliki cita-cita untuk tidak lagi hanya menjadi pemasok kopi dunia, tetapi naik kelas menjadi pusat perdagangan sekaligus penentu harga kopi global. Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyebut pemerintah akan mulai melakukan pendekatan agar Indonesia bisa menjadi hub kopi dunia.
"Ya kemarin ada usulan, kantornya (perdagangan kopi dunia), kantornya kan sekarang ada di Inggris (dipindah ke Indonesia)," kata Budi kepada wartawan di Jakarta, Senin (19/1/2026).
Ia mengatakan, Indonesia akan mencoba mendorong agar pusat perdagangan kopi dunia bisa bergeser ke Tanah Air. Menurutnya, posisi Indonesia sebagai produsen kopi besar dunia menjadi modal kuat untuk memperjuangkan hal tersebut.
"Ya nanti, karena kemarin alasannya kita kan produsenya, ya coba nanti kita akan coba melakukan pendekatan supaya kita menjadi pusat, menjadi hub kopi ya sehingga kopi dari Indonesia semakin dikenal, semakin dikenal di negara lain. Karena memang jenis kopi di Indonesia dan kita juga produsen kopi yang besar," ujarnya.
Namun, ketika ditanya apakah penetapan harga kopi dunia benar-benar bisa ditetapkan oleh Indonesia, Budi menegaskan hal itu masih harus melihat mekanisme pasar dan prosesnya tidak bisa instan.
"Ya nanti kita lihat ya, kita lihat mekanisme pasarnya seperti apa, kan itu (prosesnya bisa) secara bertahun-tahun," ucap dia.
Budi menjelaskan, salah satu langkah yang mungkin dilakukan adalah mendorong agar kantor pusat perdagangan kopi tersebut berada di Indonesia. Jika itu bisa terwujud, maka Indonesia setidaknya memiliki ruang lebih besar untuk terlibat dalam pembentukan konsep dan kerja sama dengan asosiasi kopi berskala internasional.
"Nanti kalau kita bisa kantor pusatnya di sini, kan paling tidak kita bisa merekrut atau bersama-sama dengan asosiasi kopi internasional lainnya, yang perwakilan di masing-masing negara untuk menyampaikan seperti apa nanti konsepnya," kata dia.
Terkait langkah terdekat yang akan dilakukan, Budi menekankan, strategi awal adalah membangun komunikasi dan pendekatan di berbagai forum internasional. Ia mengakui upaya tersebut tidak mudah dan membutuhkan proses panjang.
"Kita melakukan pendekatan dulu, pendekatan kan juga tidak mudah ya tiba-tiba menarik. Kita melakukan pendekatan di forum-forum internasional terkait dengan kopi," ujarnya.
Ia mencontohkan, Indonesia juga sempat menjadi tuan rumah konferensi kopi internasional, yang bisa menjadi momentum untuk memperkuat posisi Indonesia dalam peta perdagangan kopi dunia.
"Nah kebetulan kemarin itu ada konferensi yang di Jogja itu ya, ada konferensi kopi," kata Budi.
Sebelumnya, kalangan pengusaha mendorong Indonesia tidak lagi sekadar menjadi pemasok kopi dunia, tetapi naik kelas sebagai penentu harga komoditas tersebut di pasar global. Selama ini, perdagangan kopi internasional masih banyak berkiblat ke Inggris sebagai pusat transaksi.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengatakan, gagasan tersebut muncul dalam pembahasan komoditas unggulan Indonesia, khususnya kopi, teh, dan kakao atau Koteka.
"Tadi ada sedikit bicara Koteka, kopi, teh dan kakao. Selama ini Koteka ini pasar perdagangannya selalu di Inggris. Kita menjajaki, mungkin enggak misalnya paling tidak mulai dari kopi, di mana kita istilahnya nomor 3 terbesar di dunia, selain Brasil dan Kolombia, pusat perdagangannya bisa di Indonesia," ujar Anindya dalam konferensi pers di kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta, Senin (12/1/2026).
Menurutnya, Indonesia memiliki modal yang sangat kuat untuk memperjuangkan posisi tersebut karena kelengkapan varietas kopi yang dimiliki, mulai dari Arabika, Robusta, hingga kopi luwak.
"Nah kalau bisa seperti itu kan kita lengkap, dari Arabica, Robusta sampai kopi luwak pun juga ada," katanya.
Anindya menegaskan, pembahasan ini bukan sekadar wacana, melainkan akan ditindaklanjuti sebagai bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menilai, selain belanja modal pemerintah dan konsumsi domestik, perdagangan serta investasi menjadi kunci pertumbuhan ekonomi ke depan.
"Ini cukup baik dan kita akan follow up hal-hal itu semua. Dan saya rasa sih memang untuk meningkatkan pertumbuhan Indonesia, apalagi selain daripada belanja modal pemerintah yang kita harapkan akan terus berkembang, konsumsi domestik, ya selebihnya adalah perdagangan dan juga investasi," terang dia.
Dari sisi dunia usaha, Kadin menekankan pentingnya dukungan kebijakan agar peluang tersebut bisa terealisasi. Pengusaha berharap tidak hanya akses pasar yang dibuka, tetapi juga dukungan regulasi dan insentif.
"Nah dari Kadin, dunia usaha, anggota-anggota kami baik Kadin Provinsi maupun di asosiasi, tentu menginginkan peluang-peluang bukan hanya pasar dibuka, tapi juga regulasi dan insentif diberikan supaya perdagangan ini bisa berlangsung baik," kata Anindya.
Adapun terkait tingginya permintaan kopi di dalam negeri, Anindya menyebut kopi merupakan komoditas unggulan Indonesia yang terus berkembang, baik dari sisi produksi maupun konsumsi.
"Jadi kopi ini memang suatu komoditas unggulan kita ya. Sudah lama tapi makin besar. Dan kita lihat lah di dalam negeri, bisa dilihat bukan saja produsennya, tapi juga retailernya juga sudah berkembang. Banyak sekali brand-brand dalam negeri yang sudah maju, dan memang juga Indonesia bukan pasar yang kecil, 285 juta orang," tuturnya.
Dengan skala ekonomi sebesar itu, menurut Anindya, wajar jika Indonesia bermimpi sekaligus berupaya agar harga kopi dunia bisa ditetapkan dari dalam negeri.
"Nah jadi kita sama seperti komoditas-komoditas lain, kalau economies of scale nya ada di Indonesia, masuk akal kita juga bermimpi atau berupaya supaya pasar perdagangan itu harganya ditetapkan oleh Indonesia," sebut dia.
Ia mengakui, perjuangan tersebut tidak akan mudah karena selama ini pusat penentuan harga kopi sudah lama berada di luar negeri.
"Nah tentu ini akan mendapatkan, ya bisa dibilang suatu negosiasi sengit, karena selama ini selalu ada di misalnya di Inggris," katanya.
Meski demikian, Anindya menilai sebagai negara besar dan berkembang, Indonesia wajar untuk mengusulkan dan memperjuangkan perubahan tersebut.
"Nah tadi yang kita bicara koteka tadi ya, kopi, teh dan kakao. Tapi sebagai negara maju Indonesia wajar untuk mengusulkan dan memperjuangkan," ucap Anindya.
(wur)