Update Terkini "Adu Banteng" Kereta Cepat, Korban Tewas Jadi 39 Orang
Jakarta, CNBC Indonesia - Korban jiwa akibat tabrakan mematikan dua kereta cepat di Spanyol terus bertambah menjadi sedikitnya 39 orang dan melukai 120 penumpang lainnya.
Pemerintah menyebut insiden tersebut sebagai kecelakaan kereta terburuk dalam lebih dari satu dekade dan menilai peristiwa itu "sangat aneh" karena terjadi di jalur lurus yang baru direnovasi.
Kecelakaan terjadi pada Minggu (18/1/2026) malam ketika sebuah kereta cepat yang dioperasikan perusahaan swasta Iryo, melaju dari Malaga menuju Madrid, keluar jalur di dekat Adamuz. Kereta tersebut kemudian memasuki lintasan berlawanan dan menabrak kereta lain yang datang dari arah berlawanan, menyebabkan kedua rangkaian tergelincir.
Kementerian Dalam Negeri Spanyol pada Senin (19/1/2026) menyatakan jumlah korban tewas meningkat menjadi 39 orang, naik dari angka awal 21 korban yang dilaporkan polisi pada Minggu malam. Seorang juru bicara kementerian menambahkan bahwa 123 orang mengalami luka-luka, termasuk lima orang dalam kondisi sangat serius dan 24 orang luka serius.
Tragedi ini menjadi kecelakaan kereta paling mematikan sejak tahun 2013, ketika 80 orang tewas setelah sebuah kereta anjlok di tikungan tajam dekat kota Santiago de Compostela, di wilayah barat laut Spanyol.
Menteri Transportasi Spanyol Oscar Puente mengatakan bahwa kecelakaan tersebut terjadi di bagian jalur yang lurus dan telah sepenuhnya direnovasi. Ia menegaskan bahwa kereta pertama yang tergelincir merupakan rangkaian yang nyaris baru.
"Kecelakaan ini terjadi di jalur lurus yang sudah direnovasi sepenuhnya. Kereta yang pertama tergelincir itu praktis baru," kata Puente, dilansir AFP. Ia menyebut peristiwa tersebut sebagai sesuatu yang "sangat aneh".
Menurut Puente, para ahli perkeretaapian pun kesulitan menjelaskan penyebab insiden ini pada tahap awal penyelidikan. "Para pakar kereta api sangat terkejut dengan kecelakaan ini karena sangat aneh dan sangat sulit dijelaskan pada tahap ini," ujarnya.
Operator kereta Iryo menyatakan bahwa sekitar 300 penumpang berada di dalam kereta Malaga-Madrid tersebut saat kecelakaan terjadi. Sementara itu, Renfe, operator kereta kedua yang terlibat tabrakan, belum mengungkapkan jumlah penumpang yang berada di dalam rangkaiannya.
Spanyol diketahui memiliki jaringan kereta cepat terbesar di Eropa, dengan lebih dari 3.000 kilometer jalur khusus yang menghubungkan kota-kota besar seperti Madrid, Barcelona, Seville, Valencia, dan Malaga.
Ratusan penumpang yang terjebak di dalam puing-puing rangkaian kereta membuat upaya penyelamatan berlangsung sangat sulit. Kepala pemadam kebakaran Cordoba, Francisco Carmona, menggambarkan kondisi di lokasi kejadian sebagai pekerjaan yang sangat berat.
"Masalahnya adalah gerbong-gerbongnya terpelintir, sehingga logamnya terpuntir bersama orang-orang di dalamnya," kata Carmona kepada televisi publik RTVE.
"Kami bahkan harus mengeluarkan satu jenazah untuk bisa menjangkau orang yang masih hidup. Ini pekerjaan yang keras dan rumit," tambahnya.
Sebagian gerbong dilaporkan terlempar dan jatuh ke lereng setinggi sekitar empat meter, memperparah kondisi di lokasi kecelakaan.
Seorang penumpang kereta kedua yang menuju kota Huelva, yang hanya menyebutkan nama depannya Montse, menceritakan pengalamannya kepada televisi nasional Spanyol. Ia mengatakan kereta mendadak berhenti keras dan seluruh gerbong langsung gelap gulita.
"Kereta, dengan hentakan, berhenti total dan semuanya menjadi gelap," ujarnya.
Ia mengaku terlempar di gerbong terakhir dan melihat koper-koper beterbangan menimpa penumpang lain.
"Petugas di belakang saya kepalanya terbentur dan berdarah. Ada anak-anak yang menangis," katanya. "Untungnya saya berada di gerbong terakhir. Rasanya seperti diberi kesempatan hidup kedua."
Kesaksian serupa disampaikan Lucas Meriako, salah satu korban selamat yang berada di kereta pertama yang tergelincir. Ia menggambarkan kejadian itu sebagai mimpi buruk.
"Ini seperti film horor," kata Meriako kepada stasiun televisi La Sexta. "Kami merasakan benturan sangat keras dari belakang dan ada perasaan seluruh kereta akan runtuh, pecah... banyak yang terluka karena pecahan kaca," ujarnya.
Akibat kecelakaan tersebut, pengelola infrastruktur kereta Adif mengumumkan bahwa layanan kereta cepat antara Madrid dan kota-kota di wilayah Andalusia, termasuk Cordoba, Seville, Malaga, dan Huelva, akan ditangguhkan pada Senin.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menyampaikan duka cita mendalam atas tragedi tersebut. "Hari ini adalah malam penuh duka mendalam bagi negara kita akibat kecelakaan kereta tragis di Adamuz," tulis Sanchez di media sosial X.
"Tak ada kata-kata yang bisa meringankan penderitaan sebesar ini, tetapi saya ingin mereka tahu bahwa seluruh negeri berdiri bersama mereka di saat sulit ini," tambahnya.
Istana Kerajaan Spanyol juga menyatakan bahwa Raja Felipe VI dan Ratu Letizia mengikuti perkembangan tragedi tersebut "dengan keprihatinan yang mendalam".
"Kami menyampaikan belasungkawa paling tulus kepada keluarga dan orang-orang terkasih para korban yang meninggal, serta kasih dan harapan kami agar para korban luka segera pulih," tulis pihak istana.
Ucapan belasungkawa juga mengalir dari sejumlah pemimpin dunia, termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, yang menyampaikan simpati kepada rakyat Spanyol atas salah satu tragedi transportasi paling mematikan dalam sejarah terbaru negara tersebut.
(luc/luc)