Puasa Sebentar Lagi, Begini Ramalan BPS Soal Inflasi & Harga Pangan
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) membeberkan pola lonjakan harga yang kerap terjadi saat memasuki Ramadan. Dalam catatan lima tahun terakhir, awal Ramadan hampir selalu diikuti inflasi yang lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya, dengan besaran yang bervariasi tergantung kapan puasa dimulai.
"Karena kita sudah akan memasuki periode Ramadan, maka pada hari ini akan kami sampaikan historis inflasi pada momen awal Ramadan," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang disiarkan melalui kanal YouTube Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Senin (19/1/2026).
Pudji menjelaskan, awal Ramadan tiap tahunnya jatuh di waktu berbeda, mulai dari awal bulan, pertengahan, hingga menjelang akhir bulan. Kondisi ini memengaruhi pola inflasi, apakah terkumpul dalam satu bulan penuh atau terbagi ke bulan berikutnya.
"Kalau dimulai sejak awal bulan, biasanya dia inflasinya itu akan mengumpul dalam satu bulan penuh. Sementara kalau dia mulai di pertengahan bulan atau menjelang akhir bulan, biasanya inflasinya itu akan terbagi di beberapa bulan," ujarnya.
Meski demikian, BPS mencatat polanya tetap sama, yakni inflasi kerap muncul pada momen awal Ramadan dan cenderung lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya.
"Secara historis kita bisa lihat di sini bahwa pada awal Ramadan, itu selalu terjadi inflasi. Dan tingkat inflasinya itu lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya," ucap dia.
Ia memaparkan, momen awal Ramadan pada April 2021 tercatat kenaikan inflasi 0,13%. Kemudian pada April 2022, inflasi naik menjadi 0,95%. Sementara saat Ramadan dimulai pada 23 Maret 2023, inflasi bulan tersebut tercatat naik 0,18%, dan pada Maret 2024 sebesar 0,52%.
BPS juga menyoroti Ramadan 2025 sebagai periode dengan inflasi tertinggi dalam lima tahun terakhir. Pada saat itu, awal Ramadan jatuh sejak 1 Maret 2025 sehingga tekanan inflasi terkonsentrasi dalam satu bulan.
"Kalau kita lihat di bulan Ramadan 2025, inflasinya di bulan Maret ini cukup tinggi, yaitu 1,65%. Karena memang bulan Ramadan itu dimulai sejak awal bulan, yaitu 1 Maret 2025. Dan ini merupakan inflasi tertinggi selama 5 tahun terakhir di bulan Ramadan," kata Pudji.
Untuk Ramadan 2026, diperkirakan awal puasa jatuh di pertengahan bulan. Dengan melihat pola historis, inflasi bisa mulai terjadi di bulan awal Ramadan, namun puncaknya berpotensi bergeser ke bulan berikutnya.
"Nah, bagaimana dengan nanti di bulan Ramadan tahun 2026, dimana bulan Ramadan ini dimulai di pertengahan bulan. Kalau secara historis, kita lihat misalkan di tahun 2023, bulan Ramadan itu dimulai sejak tanggal 23 Maret, jadi tidak di awal bulan. Sehingga di sini terlihat bahwa sejak Maret itu sudah terjadi inflasi, tetapi puncak inflasinya justru di bulan berikutnya," jelasnya.
"Karena hari Ramadannya lebih banyak di bulan berikutnya, gitu ya," imbuh dia.
Dari sisi komoditas, BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau selalu mengalami inflasi pada bulan yang bertepatan dengan awal Ramadan. Pada 2025, inflasi kelompok ini tercatat 1,24%.
Adapun komoditas yang berulang kali muncul sebagai penyumbang inflasi pada momen awal Ramadan antara lain daging ayam ras, telur ayam ras, beras, minyak goreng, hingga cabai rawit. BPS menilai komoditas ini perlu diantisipasi lebih awal menjelang Ramadan.
Di sisi lain, BPS juga mencatat beberapa komoditas dapat memberi andil deflasi pada momen awal Ramadan, seperti cabai rawit, bawang merah, cabai merah, dan tomat.
(wur)