Update Chaos Iran: Korban Jiwa Disebut Tembus 5.000 Orang
Jakarta, CNBC Indonesia - Korban tewas dalam demonstrasi di Iran diperkirakan terus bertambah. Seorang pejabat Iran mengatakan kepada Reuters bahwa setidaknya 5.000 orang, termasuk sekitar 500 personel keamanan, tewas dalam protes nasional tersebut.
Kelompok hak asasi manusia yang berbasis di AS, HRANA, melaporkan jumlah korban tewas mencapai 3.308 orang, dengan 4.382 kasus lainnya masih ditinjau. HRANA juga menyebut telah mengkonfirmasi lebih dari 24.000 penangkapan.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi pemerintah yang menyebutkan jumlah korban dalam demonstrasi tersebut.
Adapun pihak Iran menyebut lebih dari 100 anggota aparat keamanan gugur sebagai martir akibat eskalasi kekerasan terhadap aksi-aksi damai tersebut oleh "kelompok teroris bersenjata".
Sementara itu, Iran memperingatkan Amerika Serikat (AS) agar tidak melakukan serangan atau campur tangan dalam gelombang kerusuhan nasional yang mengguncang negara tersebut. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan setiap agresi dari Washington akan dibalas keras oleh Teheran.
Peringatan ini muncul di tengah tekanan internasional yang meningkat atas penanganan protes di Iran, yang awalnya dipicu keluhan ekonomi dan kemudian berkembang menjadi tuntutan politik untuk mengakhiri pemerintahan ulama. Protes yang bermula di Grand Bazaar Teheran itu menyebar ke berbagai wilayah dan melibatkan berbagai lapisan masyarakat.
"Respons Teheran terhadap setiap agresi yang tidak adil akan keras dan disesalkan," tulis Pezeshkian melalui platform X, Minggu (18/1/2026). Ia menambahkan, setiap serangan terhadap pemimpin tertinggi Iran akan "sama saja dengan perang habis-habisan melawan bangsa."
Pernyataan tersebut merespons sikap Presiden AS Donald Trump yang berulang kali mengancam akan campur tangan jika eksekusi terhadap para demonstran berlanjut. Dalam wawancara dengan Politico, Trump menyebut "sudah saatnya mencari kepemimpinan baru di Iran."
Di sisi lain, lembaga peradilan Iran mengindikasikan kemungkinan dilanjutkannya eksekusi terhadap orang-orang yang ditahan selama kerusuhan. Juru bicara lembaga peradilan Iran, Asghar Jahangir, mengatakan sejumlah tindakan telah dikategorikan sebagai Mohareb, yakni istilah hukum Islam yang berarti berperang melawan Tuhan dan dapat dijatuhi hukuman mati.
"Serangkaian tindakan telah diidentifikasi sebagai Mohareb, yang merupakan salah satu hukuman Islam paling berat," ujarnya dalam konferensi pers, seperti dikutip Reuters.
Trump sebelumnya mengklaim Iran telah membatalkan eksekusi terhadap sekitar 800 orang, meski Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyebut Trump sebagai "kriminal" dan menuduh AS serta Israel berada di balik kerusuhan. "Beberapa ribu kematian" terjadi akibat aksi "teroris dan perusuh" yang didukung musuh asing, kata Khamenei.
Kerusuhan dilaporkan paling mematikan di wilayah Kurdi Iran di barat laut negara itu. Seorang pejabat Iran menyebut bentrokan terberat dan jumlah korban jiwa tertinggi terjadi di kawasan tersebut, yang memang memiliki sejarah aktivitas separatis. Tiga sumber mengungkapkan adanya upaya kelompok separatis Kurdi bersenjata menyeberang dari Irak ke Iran.
Situasi di lapangan diperburuk oleh pembatasan internet yang sempat dicabut sementara, namun kemudian diberlakukan kembali. NetBlocks mencatat pemadaman internet kembali terjadi di sejumlah wilayah.
(tfa/luc)[Gambas:Video CNBC]