MARKET DATA
International

Jual Minyak Venezuela Rp 8,4 Triliun, Duit AS Mengalir ke Qatar

Redaksi,  CNBC Indonesia
17 January 2026 10:15
FILE PHOTO: An oil tanker is seen on Lake Maracaibo in Venezuela's western state of Zulia March 1, 2008. REUTERS/Jorge Silva/File Photo
Foto: REUTERS/Jorge Silva

Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump, kedua negara akhirnya berhasil melakukan kesepakatan di sektor energi sebesar US$2 miliar atau setara Rp33,8 triliun. Dalam kesepakatan itu, Venezuela akan mengekspor minyak mentahnya ke AS yang dikendalikan raksasa minyak Chevron. 

Chevron merupakan mitra usaha patungan utama perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA, yang beroperasi berdasarkan otorisasi khusus dari pemerintah AS.

Chevron selama beberapa pekan terakhir menjadi satu-satunya perusahaan yang dapat memuat dan mengirim minyak Venezuela tanpa gangguan, dengan volume ekspor sekitar 100.000 hingga 150.000 barel per hari.

Kesepakatan ini tidak hanya berpotensi mengalihkan pasokan minyak dari China, tetapi juga memberi jalan keluar bagi Caracas untuk menghindari pemangkasan produksi yang lebih dalam di tengah blokade ekspor.

Penjualan Perdana Minyak Venezuela Rp8,4 Triliun

Pada pekan ini, AS sudah resmi menyelesaikan penjualan pertama minyak mentah Venezuela senilai US$500 juta atau sekitar Rp8,4 triliun. Seorang pejabat pemerintahan AS mengatakan penjualan perdana tersebut merupakan "langkah penting".

Pendapatan dari transaksi awal itu saat ini ditahan di rekening bank yang dikontrol oleh pemerintah AS, dengan salah satu rekening utama berada di Qatar sebagai lokasi netral untuk memfasilitasi aliran dana.

Penjualan minyak tambahan diperkirakan akan terjadi dalam beberapa hari dan minggu mendatang.

"Tim Presiden Trump sedang memfasilitasi diskusi positif yang sedang berlangsung dengan perusahaan minyak yang siap dan bersedia melakukan investasi yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk memulihkan infrastruktur minyak Venezuela," ujar juru bicara Gedung Putih Taylor Rogers dalam pernyataannya, seperti dikutip CNN International, Sabtu (17/1/2026).

Namun, rencana ambisius tersebut belum sepenuhnya mulus di mata industri energi AS. Sejumlah eksekutif energi, termasuk CEO ExxonMobil Darren Woods, menyatakan kehati-hatian mereka dalam berbisnis di Venezuela yang infrastrukturnya rusak parah.

Woods menilai bahwa kondisi saat ini masih "tidak layak investasi" dan memerlukan kerangka hukum serta komersial yang jelas sebelum perusahaan menanamkan modal besar.

Trump sebelumnya mengatakan bahwa industri minyak AS akan menginvestasikan setidaknya US$100 miliar (Rp1,686 triliun) untuk membangun kembali sektor energi Venezuela, meskipun belum jelas dari mana angka tersebut berasal.

Di tengah pertemuan dengan para eksekutif minyak di Gedung Putih pekan lalu, sebagian perusahaan justru enggan berkomitmen pada investasi besar di negara yang tengah dalam konflik politik dan ekonomi tersebut.

Penjualan ini dilakukan setelah serangkaian peristiwa geopolitik besar yang melibatkan perubahan rezim di Venezuela dan pengambilalihan kendali atas cadangan minyak negara Amerika Selatan itu.

Sebelumnya, AS melakukan operasi militer yang menggulingkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada awal Januari lalu dan penunjukan pemerintahan sementara yang pro-AS di Caracas. Sejak itu, AS mengambil alih kontrol atas ekspor minyak Venezuela dan berencana memasarkan output tersebut ke pasar global.

(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Perang Dunia 3 Kian Dekat ke Amerika, Presiden Ini Tuduh AS Maling


Most Popular
Features