Pemerintah Siapkan Peta Jalan BBM Dicampur Etnaol
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang menyiapkan road map atau peta jalan terkait kebijakan mandatori pencampuran etanol ke dalam Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bensin.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadali menyatakan, sudah menugaskan jajarannya untuk segera menyusun peta jalan kebijakan tersebut.
"Oh, tadi baru selesai rapat, saya lagi memerintahkan untuk lagi dibuatkan roadmap-nya (bioetanol), ya," katanya saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, dikutip Kamis (15/1/2026).
Dia menegaskan, peta jalan tersebut juga memuat implementasi bioetanol sebagai mandatori nasional. "Master plan-nya lagi, semua lagi disusun," imbuhnya.
Memang, Bahlil sebelumnya juga pernah mengatakan tahun 2028 mendatang mandatori program bioetanol di Indonesia bisa dijalankan, sehingga bisa menekan angka impor BBM bensin.
"Nah, itu untuk bioetanol. EBT-nya, pasti teman-teman tanya kapan mulai? Roadmap-nya lagi dibuat, tapi saya pastikan paling lambat 2028 sudah ada mandatori. Mungkin 2027-2028 kita roadmap-nya sebentar lagi akan selesai," ungkap Bahlil dalam Konferensi Pers Capaian Kinerja Kementerian ESDM 2025, di Gedung Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Sementara itu, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman menyampaikan, mandatori campuran etanol ke BBM akan berlaku untuk jenis bensin di atas RON 90.
"Semua yang ron di atas 90 itu nanti kita upayakan untuk bisa mandiri. Termasuk nanti ujung-ujungnya itu tinggal dua yang akan diimpor. Crude sama yang RON 90," ungkap Laode.
Sebagai gambaran, pencampuran BBM dengan etanol sebagai upaya pemerintah menekan impor BBM dari luar negeri. Hal ini juga didukung dengan beroperasinya kilang minyak atau Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan.
Menteri ESDM Bahlil bahkan menargetkan bisa menghentikan impor BBM jensi ROn 92, 95 dan 98 di tahun 2027 dengan cara meningkatkan kapasitas kilang.
"Oh gini, yang saya maksudkan kemarin dalam pidato saya di Balikpapan adalah, yang pertama impor kita RON 92, 95, 98, kita mau dorong agar produksinya sudah harus ada di 2027. 2027 ini kemungkinan di semester kedua," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (14/1/2026).
(pgr/pgr)[Gambas:Video CNBC]