Trump Sebut "Pembunuhan" di Iran Berhenti, Militer AS Tetap Siaga
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa dirinya telah menerima informasi mengenai penghentian pembunuhan terhadap pengunjuk rasa di Iran. Meski demikian, Trump menegaskan bakal terus memantau situasi sebelum memutuskan langkah terkait ancaman aksi militer terhadap Teheran.
Pernyataan mengejutkan ini disampaikan Trump di Gedung Putih setelah ia mengaku mendapat jaminan dari sumber penting di pihak Iran. Ia menyebutkan bahwa rencana eksekusi massal yang seharusnya dilakukan hari ini telah dibatalkan oleh otoritas setempat.
"Mereka mengatakan pembunuhan telah berhenti dan eksekusi tidak akan dilakukan. Seharusnya ada banyak eksekusi hari ini, tetapi itu tidak akan terjadi, dan kami akan segera mengetahuinya," ujar Trump di Oval Office dikutip AFP.
Walaupun telah menerima jaminan tersebut, Trump mengakui bahwa Amerika Serikat belum memverifikasi klaim tersebut secara independen. Saat ditanya mengenai kemungkinan pembatalan serangan militer, ia hanya menjawab, "Kami akan mengawasinya dan melihat bagaimana prosesnya nanti."
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengonfirmasi dalam wawancara dengan Fox News bahwa tidak akan ada hukuman gantung dalam waktu dekat.
"Saya dapat katakan, saya yakin tidak ada rencana untuk hukuman gantung," tegas Araghchi sembari menuduh Israel sebagai dalang kekerasan.
Lembaga hak asasi manusia melaporkan bahwa eksekusi Erfan Soltani, pria berusia 26 tahun yang ditangkap saat protes, telah ditangguhkan. Pembatalan ini memberikan sedikit titik terang di tengah gejolak yang menurut aktivis telah menelan sedikitnya 3.428 korban jiwa.
Namun, Araghchi menegaskan bahwa pemerintah Iran kini memegang kendali penuh dan situasi telah kembali tenang setelah apa yang ia sebut sebagai operasi teroris. Di sisi lain, Iran tetap bersikap menantang terhadap potensi serangan AS dengan memamerkan kemampuan serangan balasan mereka.
Penasihat senior pemimpin tertinggi Iran, Ali Shamkhani, mengingatkan Trump bahwa serangan Teheran ke pangkalan Al Udeid sebelumnya adalah bukti nyata. Ia memperingatkan bahwa serangan tersebut menunjukkan kemauan dan kapabilitas Iran untuk menanggapi setiap serangan yang datang.
Ketegangan ini memicu kewaspadaan tinggi di kawasan Timur Tengah, termasuk penutupan sementara kedutaan besar Inggris di Teheran karena alasan keamanan. Maskapai Lufthansa juga memutuskan untuk menghindari wilayah udara Iran dan Irak hingga pemberitahuan lebih lanjut akibat ancaman AS.
Sejak aksi protes meletus, Trump telah berulang kali mengancam akan melakukan intervensi militer untuk membantu rakyat Iran melawan sistem teokratis tersebut. Gerakan protes kali ini disebut sebagai yang terbesar sejak Revolusi Islam 1979 dan dihadapi dengan tindakan represif yang sangat keras.
Lembaga pemantau melaporkan bahwa otoritas Iran menggunakan pemadaman internet selama 144 jam untuk menutupi tindakan keras terhadap demonstran di lapangan. Amnesty International bahkan menuduh otoritas setempat melakukan pembunuhan massal di luar hukum dalam skala brutal yang belum pernah terjadi.
Negara-negara G7 menyatakan keprihatinan mendalam atas tingginya angka kematian dan cedera dalam konflik berdarah ini. Mereka memperingatkan akan adanya sanksi tambahan jika pemerintah Iran tidak segera menghentikan tindakan keras terhadap warga sipil.
(tps/luc)