MARKET DATA

Bank Dunia Ramal 3 Negara Krisis di 2026, Gaza Pulih!

Arrijal Rachman,  CNBC Indonesia
15 January 2026 09:25
Militer Rusia meluncurkan serangan Udara ke kota Zaporizhzhia, Ukraina. Total ada 32 orang dilaporkan terluka akibat serangan tersebut. (REUTERS/Stringer)
Foto: Militer Rusia meluncurkan serangan Udara ke kota Zaporizhzhia, Ukraina. Total ada 32 orang dilaporkan terluka akibat serangan tersebut. (REUTERS/Stringer)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Dunia atau World Bank memperkirakan sebanyak tiga negara berpotensi mengalami krisis, setelah ekonominya minus atau kontraksi pada 2026.

Tiga negara itu ialah Bolivia, Jamaika, dan Iran, sebagaimana termuat dalam Global Economic Prospect (GEP) edisi Januari 2026. Tiga negara itu mengalami resesi ekonomi sejak 2025 dengan proyeksi pertumbuhan terus mengalami tekanan sampai 2027.

Bolivia menurut ramalan Bank Dunia ekonominya akan minus di level 0,5% pada 2025, setelah laju pertumbuhan pada 2024 hanya sebesar 0,7%. Lalu, pada 2026 terkontraksi hingga 1,1% dan berlanjut minus 1,5% pada 2027.

Untuk Jamaika, ekonominya sudah terkontraksi sejak 2024 hingga ke level minus 0,5%. Berlanjut pada 2025 dengan minus 1,3%, memburuk pada 2026 dengan kontraksi 2,3% sebelum pada akhirnya pulih di 2027 dengan pertumbuhan 3,7%>

"Pertumbuhan ekonomi Jamaika diproyeksikan sebesar -2,3% pada tahun 2026 dan 3,7% pada 2027, tetap terhambat oleh kendala struktural serta rekonstruksi pasca Badai Melissa yang sangat luas dan butuh kecepatan," kata Bank Dunia dalam GEP edisi Januari 2026, dikutip Kamis (15/1/2026).

Adapun untuk Iran, ramalan ekonominya sudah terkontraksi sejak 2025 dengan minus 1,1% dan berlanjut pada 2026 menjadi minus 1,5% sebelum akhirnya mampu tumbuh 0,6% pada 2027.

"Di antara negara-negara pengekspor minyak non-GCC (Gulf Cooperation Council), aktivitas ekonomi di Republik Islam Iran diperkirakan akan mengalami kontraksi sebesar 1,5% pada tahun fiskal (FY) 2026/27 (akhir Maret 2026 hingga akhir Maret 2027) dan tumbuh dengan laju yang lebih lambat sebesar 0,6% pada FY2027/28," kata Bank Dunia.

"Mencerminkan penurunan produksi minyak di tengah pemberlakuan kembali sanksi internasional dan pembatasan perdagangan yang lebih ketat," menurut Bank Dunia dalam laporan terbarunya.

Selain negara-negara yang mengalami kontraksi, Bank Dunia memperkirakan, ekonomi Yaman pada 2026 tak akan bergerak dengan proyeksi 0,0%. Proyeksi ini lebih baik ketimbang kontraksi yang terjadi di negara itu sejak 2023 dengan minus 2,0%, 2024 minus 1,5%, dan 2026 minus 1,5%.

Khusus untuk Venezuela, yang tengah mengalami guncangan politik setelah kepala negara nya, yakni Presiden Nicolas Maduro ditangkap Presiden AS Donald Trump pada Sabtu dini hari waktu setempat (3/1/2026), Bank Dunia mengaku belum bisa meramal ekonominya karena kurangnya data yang andal dan berkualitas memadai.

"Terlalu dini untuk menilai implikasi makroekonomi dari peristiwa terkini yang melibatkan Republik Bolivariana Venezuela. Bank Dunia saat ini tidak menerbitkan data output ekonomi, pendapatan, atau pertumbuhan untuk Republik Bolivariana Venezuela karena kurangnya data yang andal dan berkualitas memadai. Republik Bolivariana Venezuela dikecualikan dari agregat makroekonomi lintas negara," kata Bank Dunia.

Ekonomi Negara konflik

Sementara itu, untuk negara yang tengah terlanda konflik bersenjata, seperti Palestina untuk bagian Gaza dan Tepi Barat tengah mengalami pemulihan ekonomi, menurut Bank Dunia.

Setelah kontraksi 4,6% pada 2023 dan memburuk hingga minus 26,6% pada 2024, ekonomi wilayah bagian Palestina yang tengah dijajah Israel itu mengalami prospek pemulihan ekonomi mulai 2025 menjadi tumbuh 3,9%, berlanjut pada 2026 menjadi tumbuh 5,1% dan melesat pada 2027 dengan pertumbuhan 11,6%.

Sedangkan Israel tidak dilaporkan ekonominya meski dikategorikan sebagai negara ekonomi maju bersama Australia; Austria; Belgia; Kanada; Kroasia; Siprus; Ceko; Denmark; Estonia; Finlandia; Prancis; Jerman; Yunani; Hong Kong SAR, Tiongkok; Islandia; Irlandia; Italia; Jepang; Republik Korea; Latvia; Lituania; Luksemburg; Malta; Belanda; Selandia Baru; Norwegia; Portugal; Singapura; Republik Slovakia; Slovenia; Spanyol; Swedia; Swiss; Inggris Raya; dan Amerika Serikat.

Untuk Rusia yang tengah berkonflik dengan Ukraina, ekonominya diramal Bank Dunia hanya akan tumbuh 0,8% pada 2026, melanjutkan pelemahan sejak 2025 yang hanya tumbuh dengan estimasi 0,9% dan 2027 menjadi tumbuh 1% meski masih lebih lambat dibanding pertumbuhan 2024 sebesar 4,3%.

Ukraina sendiri Bank Dunia perkirakan ekonominya hanya akan tumbuh 2% di 2025 dan 2026, dengan percepatan ke level 4% pada 2027, meski juga masih lebih rendah dari pertumbuhan pada 2023 sebesar 5,5% dan 2024 tumbuh 2,9%.

(arj/mij)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bank Dunia Ubah Proyeksi Ekonomi RI 2025: Dari 4,7% Jadi 4,8%


Most Popular
Features