Swasembada Bawang Putih Masuk Peta Prabowo, Diam-Diam Udah Siapkan Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah memastikan komoditas bawang putih masuk dalam agenda besar swasembada pangan nasional. Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menegaskan, Indonesia memiliki strategi dan pengalaman untuk kembali mencapai swasembada bawang putih seperti yang pernah terjadi pada era 1990-an.
Menanggapi pernyataan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan soal Indonesia yang pernah swasembada bawang putih pada 1995, Sudaryono menyatakan Kementerian Pertanian telah menyiapkan langkah konkret.
"Ya ada. Pak Presiden (Prabowo Subianto) sudah menargetkan bahwa bawang putih juga salah satu komoditas yang memang ditarget untuk swasembada ke depan," ujar Sudaryono saat ditemui di kantornya, Jakarta, Senin (12/1/2026).
Saat ini, katanya, pemerintah mulai fokus pada tahapan awal berupa penyediaan benih. Menurut Sudaryono, pembibitan menjadi kunci karena swasembada hanya bisa tercapai jika petani menanam bawang putih secara masif.
"Nah ini tentu saja sekarang sudah dimulai dari untuk pembibitan karena memang untuk bisa swasembada itu kan orang harus nanem. Nah nanem itu butuh bibit, nah bibitnya itu dibibitkan sekarang, sekarang ini fase pembibitan itu untuk bawang putih," jelasnya.
Adapun salah satu sentra pembibitan, lanjut Sudaryono, berada di Humbang Hasundutan, Sumatra Utara.
"Kemudian di Humbang Hasundutan ada Horti Center di situ, itu salah satu juga jadi tempat untuk pembibitan," sebut dia.
Ia menegaskan, arah kebijakan ini sejalan dengan perintah Prabowo untuk mengulang keberhasilan masa lalu yang terbukti bermanfaat bagi rakyat.
"Jadi intinya adalah pertama sekarang fasenya bagaimana kita sediakan bibit lebih banyak Karena Presiden sudah jelas, perintah sudah jelas yaitu bagaimana kita mengulang kembali apa-apa yang pernah berhasil, sukses, dan bermanfaat untuk rakyat, yaitu salah satunya adalah swasembada, apakah itu bawang putih, apakah itu kedelai, dan apakah itu yang lain-lain yang belum, termasuk susu yang tadi mungkin juga disinggung, itu kita ingin ke arah sana semua," kata Sudaryono.
Menurutnya, swasembada memiliki tiga manfaat utama, yakni mensubstitusi atau mengurangi impor, menyejahterakan petani, dan memberikan efek ekonomi kepada rakyat.
"Mensubstitusi impor, artinya ada kebutuhan yang bisa kita penuhi sendiri. Kemudian yang kedua, meysejahterakan petani, dan yang ketiga kan ada pertumbuhan dan ada efek ekonominya bagi rakyat," terang dia.
Saat ditanya apakah bawang putih sudah masuk dalam peta jalan swasembada hingga 2029, Sudaryono menjawab tegas.
"Oh iya dong. tentu saja," katanya.
Ia menambahkan, kebutuhan lahan bawang putih jauh lebih kecil dibandingkan padi dan jagung.
"Tapi kalau untuk bawang putih ini kebutuhan untuk bisa swasembada kira-kira kita nanam 100 ribu hektare sudah selesai, sudah cukup," sebut Sudaryono.
Meski demikian, ia mengakui ada tantangan teknis yang harus dipenuhi.
"Cuma memang di situ ada kebutuhan tempatnya harus tinggi, bibitnya harus bagus, dan lain-lain lah," kata Sudaryono.
Ia menilai, karena Indonesia pernah berhasil, maka peluang mengulang keberhasilan tersebut sangat terbuka.
"kalau kita pernah bisa, itu kan artinya kan bisa gitu ya, paham nggak? Ini kan bukan sulapan ya, maksudnya ini satu pengalaman yang pernah kita kerjakan dan rasa-rasanya kita mampu, karena memang ilmunya juga kita pernah, karena ada pengalaman tadi juga," jelasnya.
Terkait tantangan utama, Sudaryono menekankan pentingnya keberanian memulai.
"Tantangannya saya kira ya mesti ditanam. Menurut saya sih political will ya, ini ada kehendak politik bahwa kita ingin mengarah ke sana. Jadi saya kira tidak ada kehendak yang lebih besar dari political will itu sendiri, jadi presiden kan sudah, ya," ujarnya.
Saat ditanya target waktu swasembada bawang putih, Sudaryono menjawab singkat. "secepatnya lah," ucap dia singkat.
RI Pernah Swasembada Bawang Putih, Kini Bergantung Impor
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan sebelumnya mengungkapkan Indonesia pernah mencapai swasembada bawang putih pada 1995. Namun, produksi nasional terus menurun sejak 2020, sehingga impor masih menjadi andalan pemenuhan kebutuhan.
Hal itu disampaikan Luhut melalui akun Instagram resminya usai berdiskusi dengan Wakil Kepala BRIN, Kepala BPOM, serta pimpinan lembaga riset lainnya, menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo Subianto saat retret di Hambalang.
"Indonesia pernah swasembada bawang putih pada 1995. Namun sejak 2020 produksinya terus menurun. Inilah mengapa kita perlu memprioritaskan varietas unggul dan riset berbasis sains," kata Luhut.
Ia menegaskan, DEN mendukung penguatan riset bibit bawang putih untuk mengurangi ketergantungan impor.
"DEN sepakat mendukung penguatan riset bibit bawang putih guna mengurangi ketergantungan impor bibit, sekaligus meningkatkan kontribusi riset bagi pertumbuhan ekonomi nasional," ujarnya.
Secara historis, swasembada bawang putih Indonesia pernah tercapai sejak 1982, dengan sentra produksi di Temanggung (Jawa Tengah), Lombok Timur (NTB), dan Enrekang (Sulawesi Selatan). Namun, liberalisasi impor sejak pertengahan 1990-an, diperparah krisis moneter 1998, membuat produksi domestik tergerus.
Data menunjukkan, impor bawang putih melonjak dari 174,14 ribu ton pada 2000 menjadi 587,94 ribu ton pada 2018. Pada 2025, alokasi impor ditetapkan 550.000 ton. Sementara itu, produksi nasional pada 2024 hanya 39.438 ton, jauh di bawah kebutuhan lebih dari 600.000 ton per tahun.
Dengan ketergantungan impor yang masih di atas 90% konsumsi nasional, pemerintah kini menaruh harapan besar pada penguatan riset, pembibitan, dan keberanian politik untuk mengulang kejayaan swasembada bawang putih seperti yang pernah dicapai puluhan tahun lalu.
[Gambas:Video CNBC]