Waspada! Risiko Ini Bisa Perlambat Pertumbuhan Ekonomi RI di 2026
Jakarta, CNBC Indonesia - Mesin ekonomi Indonesia mulai menderu, fiskal dan moneter disebut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mulai menyatu untuk dorong pertumbuhan lebih cepat tahun ini.
Purbaya pun dengan mantap mengatakan ekonomi Indonesia bisa tumbuh 6% pada 2026 karena adanya momentum pembalikan ekonomi serta dua mesin pertumbuhan yakni fiskal serta moneter yang semakin sinkron.
"Saya mau dorong ke 6 semaksimal mungkin, dan kemungkinan besar bisa. Sekarang mudah lebih sinkron, sehingga ke depan mesin fiskal, mesin moneter, dan sektor swasta akan bertumbuh, bergerak lebih cepat, akan hidup semua," ujarnya saat konferensi pers APBN Kinerja dan Fakta 2025 di Kantor Kemenkeu, Jakarta, dikutip Senin (12/1/2026).
Meskipun demikian, Danantara melihat ada tantangan-tantangan yang tidak boleh luput dari kewaspadaan pemerintah pada 2026.Â
Danantara melihat ada beberapa tekanan yang dapat membatasi momentum pertumbuhan dengan memaksa perubahan haluan dari kebijakan pro-pertumbuhan ke arah sikap yang lebih hati-hati.
"Kita harus tetap waspada terhadap potensi risiko makro-terkait inflasi, imbal hasil, nilai tukar, dan kredit macet-yang dapat meningkat seiring percepatan pertumbuhan," tulis Danantara dalam Danantara Economic Outlook 2026 dikutip pada Senin (12/1/2026).
Selain bisa menangani tantangan tersebut, ada sejumlah PR yang juga harus diantisipasi untuk mengoptimalkan momentum pemulihan ekonomi yang sudah terlihat. Danantara menyebutnya sebagai "rising the ceiling".
Danantara mengatakan dalam meningkatkan batas atas atau potensi output membutuhkan penanganan beberapa tren jangka panjang yang telah menghambat perekonomian Indonesia, seperti rasio pajak yang menurun dan erosi daya saing manufaktur Indonesia. Kemudian, tantangan struktural, terutama fakta bahwa likuiditas domestik (relatif terhadap PDB) telah stagnan sejak Krisis Keuangan Asia juga perlu diatasi.
Danantara menilai tanpa ekspansi likuiditas yang relatif, pembiayaan proyek sektor publik pada akhirnya dapat menggeser investasi sektor swasta. Strategi moneter dan investasi yang terkalibrasi dengan baik akan dibutuhkan untuk menghasilkan efek "pergeseran" yang lebih sinergis.
"Mengangkat batasan yang telah lama menghambat pertumbuhan Indonesia akan menjadi tugas yang lebih sulit, tetapi jika dieksekusi dengan baik, akan sangat transformatif dalam jangka panjang," pungkas Danantara.
[Gambas:Video CNBC]