Candaan Purbaya ke Mendagri: Saya Ngambek Kalau Utang Tak Dibelanjakan
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Yudhi Sadewa melontarkan jawaban terhadap candaan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian yang menyebutnya akan ngambek bila namanya tak ikut disebut sebagai salah satu anggota tim pengarah Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana.
Saat acara Rapat Koordinasi Satgas Pemulihan Bencana yang digelar pada Sabtu, (10/1/2026), Purbaya mengatakan, dirinya tidak akan ngambek bila hanya tidak disebut namanya sebagai bagian dari anggota tim pengarah satgas. Ia justru ngambek bila kementerian atau lembaga tak mampu membelanjakan anggaran negara secara optimal.
"Saya enggak disebut nama, enggak ngambek, Pak. Saya ngambek kalau uang yang disediakan pakai utang, enggak dipakai juga," kata Purbaya dikutip Senin (12/1/2026).
Purbaya menjelaskan, belanja negara menjadi penting untuk direalisasikan sesuai perencanaan karena akan membantu roda perekonomian masyarakat. Apalagi untuk masyarakat yang terdampak bencana Aceh, Sumatera Utara, maupun Sumatera Barat.
"Jadi saya kumpulin uang banyak, gebuk-gebuk orang pajak, bea cukai, ditumpuk di sana, enggak dipakai. Sementara bencananya masih susah masyarakatnya," kata dia.
Dalam kesempatan itu, Purbaya juga kembali menekankan, anggaran untuk membangun kembali provinsi terdampak sangat cukup. Ia mencontohkan, dana itu seperti yang berasla dari Dana Siap Pakai (DSP) yang dikelola oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebesar Rp 250 miliar ditambah cadangan bencana Rp 5 triliun.
Belum lagi adanya arahan Presiden Prabowo Subianto yang meminta DSP harus ditambah sebesar Rp 600 miliar. Jadi, Purbaya menegaskan, secara total dana DSP tahun ini cukup banyak.
Sebagai informasi, sebelumnya Mendagri sekaligus Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana, Tito Karnavian, sempat lupa menyebutkan nama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai salah satu anggota tim pengarah.
"Sedangkan untuk infrastruktur, saya ulangi, ada yang terlewat tim pengarah, selain Menko, Panglima TNI, Kapolri, juga di situ ada Bapak Purbaya, ha-ha...," kata Tito, sebagaimana dilansir detiknews.
Tito berkelakar, bila melupakan nama Purbaya yang merupakan bendahara negara, akan berbahaya karena uang akan sulit cair dan berdampak terhadap pembayaran.
"Saya lupa menyampaikan ini, kualat ini kalau nggak, nanti ini, karena kalau beliau ngambek, beliau ngambek, kita chat mau rapat sampai malam juga percuma juga kita nanti. Iya, nggak ada pitinya, ha-ha...," kelakarnya.
(arj/haa)[Gambas:Video CNBC]